Budidaya Madu Kelulut Jadi Penopang Ekonomi dan Pelestarian Hutan Adat di Bangka

29 Mei 2026 125
Budidaya Madu Kelulut Jadi Penopang Ekonomi dan Pelestarian Hutan Adat di Bangka

SUNGAILIAT — Budidaya madu kelulut di Desa Pangkal Niur, Kabupaten Bangka, dinilai berhasil menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian Hutan Adat Tukak. Penelitian terbaru dari dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung menunjukkan usaha madu kelulut mampu memperkuat ekonomi lokal berbasis konservasi lingkungan.

Hutan Adat Tukak yang memiliki luas sekitar 275 hektare selama ini menjadi habitat lebah kelulut sekaligus sumber utama nektar madu. Di tengah ancaman ekspansi perkebunan sawit dan penambangan timah, masyarakat Desa Pangkal Niur memilih mempertahankan kawasan adat tersebut melalui Peraturan Desa Nomor 1 Tahun 2016.

Penelitian yang dilakukan oleh Budi Darmawan dan Fitri Ramdhani Harahap itu menyebut Kelompok Tani Hutan (KTH) Mesimporawang kini mengelola sekitar 200 log sarang kelulut dengan produksi madu mencapai 200 hingga 400 kilogram setiap musim.

“Hutan adat bukan hanya ruang hidup masyarakat, tetapi juga sumber ekonomi berkelanjutan melalui budidaya madu kelulut,” tulis peneliti dalam jurnal SOSMANIORA.

Harga madu kelulut di pasaran relatif tinggi dibanding madu biasa. Untuk kemasan kecil 100 mililiter, harga jual berkisar Rp80 ribu hingga Rp250 ribu. Adapun kemasan 320–450 mililiter dipasarkan dengan harga Rp295 ribu sampai Rp505 ribu.

Sebagian besar produk dipasarkan di wilayah Sungailiat dan Pangkalpinang. Namun, pemasaran mulai merambah luar daerah seperti Belitung dan Palembang melalui platform digital.

Penelitian itu juga mencatat petani madu kelulut berpotensi memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp18 juta hingga Rp27,6 juta per tahun. Pendapatan tersebut dinilai cukup membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat desa.

Selain memberi dampak ekonomi, budidaya kelulut disebut memperkuat kesadaran warga dalam menjaga Hutan Adat Tukak. Masyarakat mulai aktif merawat pohon pelawan dan vegetasi hutan lain yang menjadi sumber pakan lebah.

Menurut peneliti, semakin besar manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat dari madu kelulut, semakin kuat pula dorongan kolektif untuk melestarikan kawasan hutan adat.

Aktivitas budidaya kelulut juga memperkuat solidaritas sosial warga melalui gotong royong, kerja sama kelompok tani, serta pengawasan berbasis adat. Sistem sanksi sosial dan aturan adat dinilai efektif menjaga kawasan hutan dari ancaman perambahan.

Meski demikian, penelitian mencatat sejumlah tantangan masih dihadapi masyarakat. Ancaman predator alami seperti monyet kerap merusak sarang lebah dan menurunkan hasil produksi madu. Selain itu, area budidaya baru memanfaatkan sekitar satu hektare dari total luas hutan adat.

Peneliti merekomendasikan penguatan kapasitas petani, perluasan area budidaya yang terencana, serta dukungan pemerintah untuk pengembangan produksi madu kelulut berbasis konservasi.


Sumber:  Budi Darmawan, & Fitri Ramdhani Harahap. (2026). Sinergi Ekonomi Lokal dan Konservasi Alam: Peran Budidaya Madu Kelulut dalam Pelestarian Hutan Adat Tukak di Desa Pangkal Niur, Bangka. SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora5(1), 440–447. https://doi.org/10.55123/sosmaniora.v5i1.7632