Mengintip Harmoni Multietnis di Kedai Kopi Kong Djie Belitung: Saat Canda dan Secangkir Kopi Meruntuhkan Sekat Sosial
TANJUNGPANDAN – Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 WIB ketika arus lalu lintas di Jalan Siburik, Tanjungpandan, Belitung mulai melandai. Namun, pemandangan kontras justru terlihat di salah satu sudut trotoar. Puluhan orang dari berbagai latar belakang usia, profesi, hingga etnis tampak makin memadati deretan kursi kayu kecil di bawah temaram lampu pijar yang hangat.
Mereka adalah para pelanggan setia Kedai Kopi Kong Djie Siburik. Di kedai legendaris yang berdiri sejak tahun 1943 ini, sekat-sekat perbedaan etnis seolah luruh bersama aroma pekat perpaduan kopi Robusta dan Arabika yang mengepul dari ceret logam tinggi ikonik di area depan kedai.
Sebuah riset terbaru yang dipublikasikan dalam CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia (2025) mengungkapkan fakta menarik: eksistensi Kedai Kopi Kong Djie yang mampu bertahan lebih dari delapan dekade di wilayah kepulauan yang bahkan tidak memiliki kebun kopi sendiri, ternyata tidak sekadar ditopang oleh kualitas produk. Lebih dari itu, kedai tradisional ini telah bertransformasi menjadi sebuah ruang moral mikro yang merawat harmoni sosial di tengah masyarakat multietnis Belitung.
Oase Kesetaraan di Tengah Keberagaman Belitung
Belitung dikenal sebagai wilayah yang kaya akan keberagaman etnis. Mulai dari komunitas Melayu, Hakka, Hokkian, Jawa, hingga Batak hidup berdampingan di pulau ini. Di tengah potensi segregasi sosial, Kedai Kopi Kong Djie hadir sebagai ruang pertemuan yang sangat inklusif dan egaliter.
Studi kasus kualitatif yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Bangka Belitung—Akbar Farid, Tri Indrayati, Wilda Afriani, dan Muhammad Hayyi' Lana Alkhan—menemukan bahwa interaksi di kedai ini mendobrak berbagai teori sosiologi klasik.
"Interaksi sosial di kedai memperlihatkan bentuk harmoni yang melampaui batas etnis dan status sosial," tulis para peneliti dalam laporan ilmiahnya. Menariknya, dinamika ini menolak asumsi dasar teori etnisitas Fredrik Barth yang menekankan batas kelompok (social boundaries), serta teori ruang sosial Pierre Bourdieu tentang dominasi modal.
Di Kong Djie, tidak ada karpet merah atau perlakuan istimewa bagi pejabat maupun tokoh penting. Bang Boy, tangan kanan pemilik sekaligus penanggung jawab operasional kedai, menegaskan prinsip pelayanan yang mereka pegang teguh: semua tamu diperlakukan sama rata. Jika ada tamu penting datang tanpa perjanjian, pengelola secara eksplisit menolak untuk mengusir pelanggan biasa yang sedang asyik ngopi demi memberikan tempat duduk.
Membedah 'Habitus Moral': Rahasia Mengikat Hati Pelanggan
Salah satu temuan kunci dalam riset ini adalah lahirnya istilah habitus moral—sebuah kebiasaan sosial yang mempertahankan keharmonisan melalui tindakan etis, keterbukaan, kejujuran, dan humor, bukan lewat persaingan simbolik kelas.
+-------------------------------------------------------------------+
| PRINSIP HABITUS MORAL KONG DJIE SIBURIK |
| * Egaliter : Tidak ada perbedaan pelayanan antar-kelas sosial|
| * Murah Hati : Menyediakan kopi gratis untuk ODGJ |
| * Solidaritas : Kebijakan 'cash bond' & menahan kenaikan harga |
| * Toleransi : Mematikan musik saat ibadah di gereja terdekat |
+-------------------------------------------------------------------+
Bang Boy, yang memulai kariernya di kedai ini dari kebiasaan nongkrong di emperan hingga akhirnya dipercaya menjadi penanggung jawab, menerapkan standar kerja interpersonal yang humanis. Nilai-nilai moral yang ia dapatkan dari pesan orang tuanya—seperti selalu menjaga nama baik dan menghindari konflik—diinternalisasikan ke dalam SOP pelayanan kedai.
Candaan tulus dan humor segar kerap dilemparkan oleh peracik kopi dan pelayan untuk mencairkan suasana jika ada pelanggan yang tampak tegang atau kesal. Bahkan, nilai kemanusiaan di kedai ini diuji ketika ada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang datang; mereka tetap dilayani dengan layak dan diberikan kopi secara gratis tanpa diskriminasi.
"Keberlangsungan Kong Djie bukan hanya ditopang oleh rasa kopi, tetapi terutama oleh hubungan yang dijaga dengan hati dan candaan yang tulus," ujar Bang Boy saat diwawancarai peneliti.
Solidaritas di Masa Sulit dan Toleransi Beragama
Ekonomi kedai kopi legendaris ini juga dijalankan dengan prinsip solidaritas. Mengingat sebagian besar pelanggannya berasal dari kelas menengah ke bawah, pemilik kedai berupaya keras menahan kenaikan harga menu meskipun harga bahan baku di pasar berfluktuasi. Prinsip sharing atau berbagi lebih diutamakan ketimbang profit maksimal.
Sifat kedermawanan ini bahkan teruji nyata saat badai pandemi COVID-19 melanda beberapa tahun lalu. Di saat banyak usaha membatasi interaksi, Kong Djie tetap melayani pembelian secara take away dan secara luar biasa memberikan izin sistem cash bond (berutang) bagi pelanggan setia yang ekonominya terpuruk dan belum mampu membayar.
Selain solidaritas ekonomi, kedai yang beroperasi 24 jam ini juga menerapkan toleransi beragama yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Terletak tidak jauh dari sebuah gereja, pengelola kedai memiliki kesadaran kolektif untuk langsung mematikan musik setiap kali ada kegiatan keagamaan atau ibadah yang sedang berlangsung di gereja tersebut.
Dari 'Laskar Pelangi' Hingga Komunitas Futsal
Popularitas Kedai Kopi Kong Djie semakin meroket secara nasional pasca-meledaknya film Laskar Pelangi. Nuansa klasik retro, jajaran ceret logam tinggi, dan foto sang penulis novel, Andrea Hirata, terpajang rapi menjadi simbol kebanggaan lokal sekaligus daya tarik utama bagi para wisatawan luar daerah yang rindu akan suasana nostalgia.
Namun, alih-alih melupakan akar rumput demi pasar turis, kedai ini justru mempererat hubungan dengan basis massa lokalnya. Mereka memfasilitasi pembentukan komunitas pelanggan tetap yang diberi nama Anak Kong Djie Siburik (AKS), yang secara rutin didanai oleh kedai untuk mengikuti turnamen-turnamen futsal lokal.
Melalui cangkir-cangkir kopi yang disajikan tanpa ampas, Kedai Kopi Kong Djie membuktikan bahwa di atas tanah Belitung yang multikultural, keharmonisan tidak perlu dipaksakan oleh aturan hukum formal yang kaku atau lembaga sosial yang besar. Harmoni itu tumbuh subur secara organik dari ketulusan menyapa, hangatnya obrolan, dan pembiasaan moral sederhana yang dirawat dengan hati setiap hari.
Sumber: Farid, A., Indrayati, T., Afriani, W., & Alkhan, M. H. L. (2025). Habitus moral dan harmoni sosial di Kedai Kopi Kong Djie Belitung. CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, 5(6), 1631-1641. https://doi.org/10.53866/jimi.v5i6.1067
Sumber Gambar: Gambar sampul artikel ini merupakan gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI).