Ritual Adat Nujuh Jerami di Air Abik Jadi Momentum Dialog Kritis Masyarakat Adat Mapor

04 Mei 2026 18
Ritual Adat Nujuh Jerami di Air Abik Jadi Momentum Dialog Kritis Masyarakat Adat Mapor

Bangka – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti pelaksanaan ritual adat Nujuh Jerami yang digelar pada Rabu, 29 April 2026, di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Tradisi turun-temurun masyarakat adat Mapor ini kembali dilaksanakan sebagai wujud syukur atas hasil panen sekaligus penghormatan terhadap leluhur dan kearifan lokal yang terus dijaga.

Pelaksanaan Nujuh Jerami tahun ini terasa istimewa dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, kegiatan ini turut dihadiri oleh Bupati Bangka terpilih, yang kehadirannya menjadi simbol perhatian pemerintah daerah terhadap eksistensi dan keberlanjutan masyarakat hukum adat di Bangka.

Tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, momentum ini juga dimanfaatkan oleh komunitas adat Mapor sebagai ajang dialog terbuka dan kritis. Dalam suasana yang hangat namun sarat makna, perwakilan masyarakat adat menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada Bupati terpilih serta anggota DPRD Kabupaten Bangka yang turut hadir. Dialog tersebut menyoroti isu penting terkait masa depan pengakuan dan perlindungan Masyarakat Hukum Adat Mapor, termasuk hak atas wilayah adat, pelestarian budaya, serta keberlanjutan kehidupan sosial mereka.

Kehadiran akademisi dari Universitas Bangka Belitung (UBB) turut memperkuat dimensi intelektual dalam kegiatan ini. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UBB) bersama sejumlah dosen UBB hadir secara langsung sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas masyarakat adat serta mendorong sinergi antara akademisi, pemerintah, dan komunitas lokal. Keterlibatan pihak kampus diharapkan dapat menjadi jembatan dalam penyusunan kebijakan berbasis riset dan keadilan sosial.

Selain prosesi ritual yang sarat simbol dan nilai spiritual, rangkaian kegiatan juga diisi dengan kebersamaan antarwarga, pertunjukan budaya, serta diskusi informal yang mempererat hubungan antara masyarakat adat dan para pemangku kepentingan.

Nujuh Jerami tahun ini bukan sekadar perayaan tradisi, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam perjuangan masyarakat adat Mapor untuk memperoleh pengakuan yang lebih kuat secara hukum dan politik. Harapannya, dialog yang telah terbangun dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan nyata yang berpihak pada keberlanjutan masyarakat adat di Kabupaten Bangka.