UMKM Kedai Kopi di Belitung Dinilai Perkuat Ketahanan Nasional Berbasis Komunitas
BELITUNG, fisip.ubb.ac.id – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kedai kopi di Kabupaten Belitung dinilai tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi lokal, tetapi juga menjadi fondasi ketahanan nasional berbasis komunitas. Hal itu terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada.
Penelitian berjudul Kapabilitas Dinamis dan Inklusivitas Budaya sebagai Fondasi Ketahanan Komunitas UMKM Kedai Kopi di Kabupaten Belitung tersebut dilakukan oleh Tsulis Amiruddin Zahri, Akbar Farid, Hanifa Intan Desiga, & Khoerotun Nisa Liswati dari Universitas Bangka Belitung.
Hasil penelitian menunjukkan, pelaku usaha kedai kopi di Belitung mampu membangun daya tahan usaha melalui inovasi produk, diversifikasi pasar, hingga adaptasi digital yang tetap berpijak pada nilai budaya lokal. Selain itu, kedai kopi juga menjadi ruang sosial yang memperkuat solidaritas lintas-etnis di masyarakat.
“Ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kebijakan negara, tetapi juga melalui praktik ekonomi mikro berbasis nilai budaya dan solidaritas sosial,” tulis peneliti dalam jurnal tersebut.
Penelitian dilakukan pada Juli hingga September 2025 melalui wawancara mendalam terhadap delapan pelaku usaha kedai kopi di Kabupaten Belitung dan diperkuat dengan data pembanding dari Kota Pangkalpinang.
Peneliti menemukan tiga faktor utama yang membentuk ketahanan komunitas UMKM kopi, yakni kapabilitas dinamis berbasis nilai, literasi sosial-ekonomi adaptif, serta solidaritas lintas-etnis dan lintas-generasi.
Dalam praktiknya, para pelaku usaha tidak hanya mengandalkan strategi bisnis modern, tetapi juga membangun hubungan emosional dengan pelanggan dan komunitas sekitar.
Salah satu informan penelitian menyebutkan bahwa pelanggan dianggap sebagai bagian dari keluarga. “Kalau ada pelanggan lama tidak datang, saya cari tahu kenapa,” ungkap seorang pelaku usaha dalam wawancara penelitian.
Penelitian juga menyoroti kuatnya budaya gotong royong di antara pemilik kedai kopi. Para pelaku usaha disebut saling membantu ketika menghadapi kesulitan bahan baku maupun tekanan ekonomi, termasuk saat pandemi Covid-19.
“Kami sering tukar informasi, misalnya bahan mana yang masih murah, atau tempat mana yang sepi. Jadi kami saling bantu promosi juga,” kata salah satu informan penelitian.
Selain menjadi ruang ekonomi, kedai kopi di Belitung juga dinilai berfungsi sebagai ruang sosial inklusif. Pelanggan dari berbagai latar belakang, seperti Melayu, Tionghoa, Jawa, maupun pendatang, disebut dapat berinteraksi tanpa sekat sosial.
Peneliti menilai pola hubungan tersebut memperkuat kohesi sosial sekaligus menciptakan stabilitas ekonomi berbasis komunitas.
Secara konseptual, penelitian ini memperluas teori dynamic capabilities dengan memasukkan unsur moralitas, empati sosial, dan budaya lokal sebagai bagian penting dalam adaptasi ekonomi UMKM.
Penelitian tersebut merekomendasikan agar pemerintah tidak hanya memandang UMKM sebagai entitas ekonomi, tetapi juga sebagai agen ketahanan sosial dan budaya masyarakat. Program pemberdayaan UMKM dinilai perlu mengintegrasikan aspek solidaritas sosial, etika bisnis, dan kolaborasi lintas budaya.