Bias Informasi atau Kontrol Sosial? Analisis Framing Robert N. Entman pada Program 'Dua Sisi' tvOne Saat Bedah Konflik Gaza

08 Jun 2026 23
Bias Informasi atau Kontrol Sosial? Analisis Framing Robert N. Entman pada Program 'Dua Sisi' tvOne Saat Bedah Konflik Gaza

JAKARTA – Peristiwa serangan pejuang Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 serta serangan balasan militer Israel yang membombardir Jalur Gaza memicu eskalasi liputan yang masif di panggung media global dan nasional. Sebagai institusi pers yang terikat pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, media massa memikul tanggung jawab besar dalam menjalankan fungsi informasi, pendidikan, sekaligus kontrol sosial. Namun, bagaimana jadinya jika sebuah program diskusi berita dinilai gagal memenuhi prinsip keberimbangan?

Sebuah riset aksi bertajuk "Pembingkaian tvOne Terhadap Fenomena Konflik pada Program Dua Sisi Episode 'Gaza Membara, Saling Serang Israel Palestina'" membedah persoalan tersebut. Riset kualitatif yang disusun oleh Adistri Sabrina Jasmine dan Arta Elisabeth Purba dari Institut Bisnis Nusantara ini dipublikasikan dalam Jurnal Esensi Komunikasi Daruna (Mei 2025).

Menggunakan pisau analisis model framing Robert N. Entman, para peneliti menguliti empat elemen utama teks—pendefinisian masalah (define problems), penyebab masalah (diagnose cause), keputusan moral (make moral judgement), dan rekomendasi penyelesaian (treatment recommendation)—pada tayangan talkshow Dua Sisi yang mengudara 12 Oktober 2023 silam. Hasilnya, tvOne ditemukan cenderung menitikberatkan pembingkaian pada narasi perlawanan atas okupasi panjang Israel, namun masih kedodoran dalam menyajikan data berimbang dan fungsi edukasi mendalam bagi publik.

Soroti Akar Okupasi dan Isu Kemanusiaan

Dalam amatan peneliti dari Segmen 1 hingga Segmen 4, presenter Dua Sisi (Dwi Anggia) beserta sejumlah narasumber seperti Haikal Hassan (Pendakwah) dan Mardani Ali Sera (Politisi PKS) secara konsisten mendefinisikan konflik tersebut bukan sebagai peristiwa tunggal yang berdiri sendiri.

"tvOne melalui program Dua Sisi membingkai bahwa akar pemicu serangan 7 Oktober merupakan akumulasi dari penjajahan, perebutan wilayah, serta pendudukan ilegal yang dilakukan oleh zionis Israel selama berpuluh-puluh tahun. Serangan Hamas diposisikan sebagai reaksi untuk menyuarakan hak dan menarik perhatian dunia demi kemerdekaan Palestina," tulis Adistri Sabrina Jasmine dan Arta Elisabeth Purba dalam laporan ilmiah mereka.

Dari sisi nilai moral, tayangan tersebut mengecam keras tindakan balasan Israel yang memutus pasokan listrik, air, dan suplai makanan ke Gaza karena dinilai bertentangan dengan asas perikemanusiaan, perikeadilan, serta melanggar Konvensi Jenewa. Bahkan, penderitaan massal warga sipil dan kerusakan fasilitas publik, termasuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza, digambarkan narasumber sebagai bentuk tindakan genosida.

Gagal Terapkan Cover Both Sides dan Minim Data

Kendati program ini mencoba menghadirkan narasumber dari dua kubu berseberangan—seperti menghadirkan Monique Rijkers (Aktivis Yahudi Pro Israel) dan Ade Armando berdampingan dengan para pembela narasi Palestina—riset ini menemukan fakta bahwa tvOne belum berhasil menerapkan prinsip cover both sides secara adil.

Berdasarkan hasil analisis transkrip, ruang bicara (speaking space) yang diberikan kepada narasumber pro-Palestina jauh lebih dominan untuk menanggapi situasi darurat tersebut ketimbang ruang bagi pihak pro-Israel. Monique Rijkers yang menyuarakan bahwa aksi Hamas menyandera warga sipil merupakan tindakan teror yang melanggar nilai kemanusiaan, tidak mendapatkan porsi atau ruang sanggah yang seimbang di atas panggung diskusi.

Selain masalah bias ruang bicara, riset ini mengkritik kegagalan tvOne dalam mengimplementasikan fungsi edukasi pers. Selama satu jam penayangan, perdebatan antar narasumber dinilai kering karena kurang menyajikan visualisasi data, fakta historis konkret, ataupun dokumen hukum internasional yang kuat untuk menyokong argumentasi masing-masing pihak. Akibatnya, esensi diskusi dinilai masih terjebak pada paradigma bad news is a good news demi mendongkrak kepedulian khalayak lewat sentimen emosional semata.

Jurnalisme Damai yang Terganjal Realitas

Pada elemen rekomendasi penyelesaian, program Dua Sisi berulang kali mendengungkan konsep two-state solution (solusi dua negara) berdasarkan Resolusi PBB 1974 sebagai jalan keluar utama konflik. Narasumber juga menegaskan bahwa penyerangan harus dihentikan dan Israel harus melepas pendudukannya terlebih dahulu jika ingin 150 sandera warga negaranya dibebaskan oleh Hamas.

Namun, para peneliti menilai solusi yang digaungkan lewat layar kaca tersebut menjadi kurang solutif dan sulit diwujudkan jika dihadapkan pada realitas politik kontemporer di Timur Tengah. Belum lagi ditambah fakta sejarah kelam eskalasi konflik, termasuk tewasnya pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Iran pada akhir Juli 2024 yang diduga akibat serangan Israel, semakin menjauhkan peluang rekonsiliasi dan konsolidasi damai di dunia nyata.

Studi ini menyimpulkan bahwa media televisi nasional memiliki andil besar dalam membentuk opini publik terkait isu internasional. Oleh sebab itu, jurnalisme damai yang berimbang, akurat, serta bebas dari keberpihakan ruang bicara mutlak diperlukan agar khalayak tidak sekadar disuapi informasi yang timpang, melainkan mendapat edukasi yang mencerahkan dan objektif.


Sumber: Jasmine, A. S., & Purba, A. E. (2025). Pembingkaian tvOne terhadap fenomena konflik pada program Dua Sisi episode "Gaza Membara, Saling Serang Israel Palestina". Jurnal Esensi Komunikasi Daruna, 4(1), 1–6. https://doi.org/10.56943/daruna.v4i1.64

Sumber gambar: https://unair.ac.id/wp-content/uploads/2022/12/Ilustrasi-Magdalene.png