Dongkrak Wisata Bangka Belitung, Tim Dosen UBB Gagas Pembelajaran E-Learning Berbasis Folklor di SMPN 4 Sungailiat
Sungailiat – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya tersohor dengan keindahan pantainya, tetapi juga menyimpan kekayaan folklor atau cerita rakyat yang berpotensi besar menyokong industri pariwisata berbasis budaya. Namun, selama ini potensi warisan lisan tersebut belum tergarap optimal karena minimnya porsi materi kearifan lokal dalam kurikulum sekolah formal.
Melihat celah tersebut, tim dosen dari Jurusan Bahasa dan Sastra Universitas Bangka Belitung (UBB) yang beranggotakan Tri Arie Bowo, Khoerotunisaliswati, Donny Adiatmana Ginting, dan Poniman mengambil langkah taktis. Mereka menginisiasi program pengabdian masyarakat berupa asistensi platform e-learning berbasis folklor di SMPN 4 Sungailiat.
Inovasi digital ini dirancang sebagai jembatan untuk mengenalkan tradisi lisan sekaligus menyiapkan generasi muda menjadi motor promosi pariwisata daerah.
Gunakan Metode PAR, Siswa Diajak Jadi 'Pemandu Wisata' Bilingual
Program pengabdian masyarakat yang didanai oleh LPPM UBB ini berlangsung selama empat hari, tepatnya pada 21–25 Juli 2025. Dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), program ini melibatkan kolaborasi aktif dari 4 guru pendamping, 5 fasilitator, serta 42 siswa SMPN 4 Sungailiat.
"Integrasi nilai-nilai folklor ke dalam teknologi digital menawarkan aksesibilitas dan metode belajar yang jauh lebih interaktif ketimbang cara konvensional," tulis Tri Arie Bowo dan tim dalam laporan ilmiahnya yang dipublikasikan pada Journal Abdimas Maduma (Oktober 2025).
Tidak sekadar duduk di depan layar komputer atau gawai, para siswa mulanya dibekali materi legenda lokal lewat platform Google Classroom. Setelah itu, mereka terjun langsung ke lapangan untuk melakukan kegiatan roleplay (bermain peran) di destinasi wisata lokal.
Secara impresif, para siswa mempraktikkan keterampilan sebagai pemandu wisata masa depan dengan menceritakan sejarah dan mitos daerah menggunakan metode bilingual (bahasa Indonesia dan bahasa asing).
Nilai Ujian Naik 25 Persen, Literasi Digital Jadi Evaluasi
Penerapan e-learning ini terbukti mendongkrak minat dan kemampuan akademik siswa secara signifikan. Berdasarkan hasil evaluasi tim pengabdian, indikator keberhasilan program ini terlihat dari beberapa aspek:
Peningkatan Nilai Akademik: Rata-rata nilai tes siswa melonjak hingga 25% setelah memanfaatkan platform digital dibandingkan dengan tes sebelum program dimulai.
Antusiasme Tinggi: Lebih dari 80% siswa mengaku jauh lebih tertarik dan merasa terhubung dengan kekayaan budaya serta cerita rakyat di daerah mereka sendiri.
Peningkatan Kompetensi Guru: Para tenaga pendidik mulai terbiasa mengelola visualisasi materi ajar yang lebih adaptif dan interaktif.
Meski menuai respons positif, program ini bukan tanpa hambatan. Tim UBB mencatat adanya tantangan klasik berupa infrastruktur teknologi di sekolah yang belum merata, seperti koneksi internet yang tidak stabil. Selain itu, tingkat literasi digital siswa yang beragam dan ketidaksiapan sebagian guru dalam menyisipkan materi teknologi ke dalam kurikulum konvensional menjadi catatan penting untuk perbaikan ke depan.
Model Edukasi Baru untuk Pariwisata Berkelanjutan
Keberhasilan asistensi digital di SMPN 4 Sungailiat diharapkan mampu menjadi cetak biru (blueprint) bagi sekolah-sekolah lain di Bangka Belitung. Langkah ini dinilai strategis dalam mendukung konsep cultural tourism atau pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan.
Melalui model pembelajaran digital ini, generasi muda tidak hanya diposisikan sebagai penonton, melainkan agen aktif yang menjaga kelestarian tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif daerah.
Sumber: Bowo, T. A., Khoerotunisaliswati, Ginting, D. A., & Poniman. (2025). Asistensi e-learning berbasis folklor untuk meningkatkan pariwisata Bangka Belitung di SMPN 4 Sungailiat. Journal Abdimas Maduma (JAM), 4(3), 26–36. https://doi.org/10.52622/jam.v4i3.510