Harmoni Melayu-Tionghoa di Bangka Terjaga Lewat Politik Berbagi Peran
Pulau Bangka — Kehidupan masyarakat Melayu dan etnis Tionghoa di Pulau Bangka dinilai mampu menunjukkan hubungan sosial yang harmonis di tengah perbedaan budaya dan identitas etnis. Kondisi tersebut terbentuk melalui proses panjang interaksi sosial, budaya, ekonomi, hingga politik yang berlangsung selama ratusan tahun.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan akademisi Universitas Bangka Belitung, disebutkan bahwa etnis Tionghoa telah menjadi bagian dari masyarakat Bangka sejak masa penambangan timah pada abad ke-17. Kedatangan mereka sebagai pekerja tambang dari Guangdong, Tiongkok, kemudian berkembang menjadi komunitas yang hidup berdampingan dengan masyarakat Melayu setempat.
Penelitian itu menjelaskan, meskipun etnis Tionghoa merupakan kelompok minoritas, mereka memiliki peran penting dalam sektor ekonomi, perdagangan, hingga politik di Bangka Belitung. Namun dominasi tersebut tidak memicu konflik sosial seperti yang pernah terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia.
Peneliti menemukan bahwa harmonisasi hubungan kedua etnis terbentuk karena adanya “politik berbagi peran”. Masyarakat Melayu dan Tionghoa saling berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perdagangan, budaya, hingga hubungan keluarga melalui pernikahan antaretnis.
“Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong” menjadi semboyan yang dikenal masyarakat Bangka, yang berarti orang Melayu dan Tionghoa adalah sama dan setara. Nilai tersebut dianggap menjadi fondasi kuat dalam menjaga toleransi antaretnis di daerah itu.
Di bidang budaya, akulturasi terlihat dari penggunaan pakaian adat Melayu oleh masyarakat Tionghoa hingga kuliner khas seperti martabak manis dan kue keranjang yang diterima luas oleh masyarakat Bangka. Interaksi sosial juga tampak dalam tradisi saling mengunjungi saat hari raya keagamaan.
Sementara di sektor politik, sejumlah tokoh keturunan Tionghoa berhasil menduduki jabatan strategis di Bangka Belitung, mulai dari anggota legislatif hingga kepala daerah. Kehadiran mereka dinilai menunjukkan minimnya diskriminasi etnis dalam proses demokrasi lokal.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa harmonisasi di Bangka terbentuk melalui penguasaan empat modal utama oleh etnis Tionghoa, yakni modal ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Pengelolaan modal tersebut dilakukan secara inklusif sehingga diterima masyarakat Melayu sebagai bagian dari realitas sosial bersama.
Dengan kondisi tersebut, Bangka Belitung dinilai menjadi salah satu contoh keberhasilan kehidupan multikultural di Indonesia, di mana perbedaan etnis tidak berkembang menjadi konflik, melainkan menjadi kekuatan dalam membangun kerukunan sosial.
Sumber: Ibrahim, I., Hidayat, A., & Herza, H. (2022). Habituation of Chinese Subculture amid Bangka Malay Domination: The Role-sharing Politics. Society, 10(2), 255-270. https://doi.org/10.33019/society.v10i2.424