Penelitian Soroti Peran Transportasi Molek dalam Aksesibilitas Desa Lebong Tandai

21 Mei 2026 116
Penelitian Soroti Peran Transportasi Molek dalam Aksesibilitas Desa Lebong Tandai

Bengkulu Utara – Penelitian terbaru dari Universitas Bangka Belitung menyoroti pentingnya transportasi molek sebagai sarana utama mobilitas masyarakat Desa Lebong Tandai, Kabupaten Bengkulu Utara, di tengah keterbatasan akses jalan darat konvensional.

Penelitian yang dilakukan oleh Apsas Saputra dan Kharis Kurnia itu dipublikasikan dalam Dinamika: Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara Volume 13 Nomor 1 tahun 2026. Studi tersebut membahas bagaimana kebijakan pemerintah desa berupaya meningkatkan aksesibilitas masyarakat melalui pengelolaan transportasi molek.

Dalam penelitian dijelaskan, Desa Lebong Tandai merupakan wilayah terpencil yang berada di balik Bukit Barisan dan dikelilingi hutan serta jurang terjal. Kondisi geografis itu membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat menjangkau desa tersebut. Satu-satunya moda transportasi yang digunakan masyarakat adalah molek, kendaraan berbasis rel menyerupai kereta sederhana.

Perjalanan menuju desa membutuhkan waktu sekitar enam jam dari titik keberangkatan di Pondok Bakil, Kecamatan Napal Putih. Dahulu, molek banyak digunakan oleh penambang emas saat Lebong Tandai dikenal sebagai kawasan penghasil emas pada masa kolonial Belanda.

Penelitian menyebut ketergantungan masyarakat terhadap molek sangat tinggi, tidak hanya untuk aktivitas ekonomi, tetapi juga untuk kebutuhan pendidikan, kesehatan, hingga distribusi logistik pemerintah dan pemilu. Namun, keterbatasan kapasitas angkut, keamanan perjalanan, biaya perawatan rel, dan lamanya waktu tempuh masih menjadi tantangan utama.

Melalui pendekatan Equity and Accessibility Framework, peneliti menganalisis sejauh mana kebijakan desa mampu menciptakan akses transportasi yang adil dan terjangkau bagi masyarakat. Kerangka tersebut menilai aspek kesetaraan manfaat, pemerataan akses, hingga keterjangkauan ekonomi layanan transportasi.

Hasil penelitian menunjukkan pemerintah Desa Lebong Tandai telah mengalokasikan Dana Desa untuk memperbaiki rel, jembatan kecil, dan infrastruktur pendukung jalur molek. Pemerintah desa juga mengatur tarif melalui musyawarah desa untuk mencegah biaya transportasi yang terlalu tinggi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Selain itu, pemerintah desa memberikan subsidi terbatas bagi pelajar, kelompok rentan, dan kegiatan sosial prioritas. Pemeliharaan jalur molek juga dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat dan operator transportasi.

Penelitian menemukan bahwa keberadaan molek telah meningkatkan konektivitas wilayah dan memperlancar distribusi hasil pertanian serta aktivitas perdagangan masyarakat desa. Namun demikian, biaya transportasi yang relatif tinggi masih menjadi hambatan bagi kelompok masyarakat kurang mampu, termasuk perempuan, lansia, dan pelajar.

Di sisi lain, studi itu juga menyoroti belum adanya Peraturan Desa maupun standar operasional tertulis yang mengatur keselamatan dan pelayanan transportasi molek. Informasi layanan masih disampaikan secara informal dari mulut ke mulut sehingga dinilai kurang efektif.

Peneliti merekomendasikan penguatan regulasi desa, peningkatan subsidi transportasi berkelanjutan, serta optimalisasi peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam pengelolaan molek agar layanan transportasi desa menjadi lebih profesional dan inklusif.

Menurut penelitian tersebut, transportasi molek bukan sekadar alat mobilitas masyarakat, melainkan bagian penting dari strategi pembangunan desa untuk mengurangi keterisolasian wilayah dan memperkuat keadilan sosial di kawasan terpencil. 




Sumber: Saputra, A., & Kurnia, K. (2026). Transportasi molek dan kebijakan desa: Upaya pemerintah meningkatkan aksesibilitas masyarakat Desa Lebong Tandai. Dinamika: Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Negara, 13(1), 199–207. http://dx.doi.org/10.25157/dak.v13i1.23637


Sumber gambar: Siswoyo, H. (2019, May 10). Molek, kereta kuno yang masih merayap di hutan Sumatera. kumparan. https://kumparan.com/harry-siswoyo-1556621356005793559/molek-kereta-kuno-yang-masih-merayap-di-hutan-sumatera-1r2zrg4xNim