Jalan Panjang Menuju Pendidikan: Catatan dari Desa Buku Limau, Belitung Timur
Tulisan ini merupakan refleksi dari hasil penelitian yang dilakukan Tim Riset Universitas Bangka Belitung yang beranggotakan Devan Aryadi, Cindy Melany Sadin, Devary Darren, dan Fitri Evilia di Desa Buku Limau, Kabupaten Belitung Timur, pada 19–26 Juli 2026. Selama proses penelitian, tim menyaksikan secara langsung berbagai realitas yang menunjukkan bahwa pemenuhan hak atas pendidikan di wilayah kepulauan masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana.
Bagi sebagian besar anak di Indonesia, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti SMP dan SMA merupakan sesuatu yang nyaris dianggap biasa. Sekolah tersedia dan jaraknya dapat di tempuh dalam hitungan menit, sehingga setiap pagi mereka cukup berjalan kaki, bersepeda, atau di antar orang tua. Sayangnya, pengalaman serupa tidak sepenuhnya dirasakan oleh anak-anak di Desa Buku Limau, Kabupaten Belitung Timur.
Desa yang berada di tengah hamparan laut di Kabupaten Belitung Timur ini hanya memiliki akses pendidikan sampai jenjang sekolah dasar. Setelah lulus dari sekolah dasar, anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan harus menyeberangi laut menuju Kecamatan Manggar, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit melalui jalur laut. Perjalanan yang ditempuh oleh anak-anak dari Desa Buku limau bukan sekedar proses berpindah dari satu pulau ke pulau lain, melainkan langkah awal memasuki tantangan baru yang tidak semestinya menjadi beban seorang anak untuk memperoleh hak atas pendidikan. Perjuangan menghadapi keterbatasan akses, biaya hidup, serta kenyataan harus berpisah dengan keluarga di usia yang masih sangat muda merupakan harga yang harus dibayar guna tetap bisa mengenyam pendidikan pasca sekolah dasar.
Pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap warga negara. Negara menjamin hak tersebut melalui Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 Menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan”. Tidak berhenti hanya sampai di situ, hari ini kata pemerataan pendidikan terus menerus digaungkan sebagai wujud nyata komitmen pemerintah dalam menunjang pendidikan yang ada demi SDM yang berkualitas. Namun, melihat realita yang terjadi di Desa Buku Limau terbesit sebuah tanya yang cukup mengganggu pikiran penulis, apakah pendidikan benar-benar telah merata jika untuk melanjutkan sekolah seorang anak perlu meninggalkan rumah, menyebrangi lautan, dan menanggung biaya hidup tambahan yang tidak sedikit?
Hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa anak-anak di Desa Buku Limau bukan tidak ingin untuk melanjutkan pendidikannya. Keinginan itu tetap ada, di luar faktor sosial budaya yang dimana mayoritas masyarakat di desa ini merupakan nelayan sehingga peluang ekonomi dari hasil laut cukup menjanjikan dan membuat anak-anak tidak sedikit untuk ikut melaut. Namun, sebenarnya tidak sedikit orang tua yang sebenarnya berharap anak mereka untuk melanjutkan pendidikan ketimbang melaut hanya saja keinginan saja tidak cukup ketika akses untuk mendapatkannya berubah menjadi sebuah kemewahan. Menyeberangi laut hanyalah awal dari persoalan. Setibanya di Manggar, mereka yang tidak punya sanak saudara biasanya tinggal di mess yang sudah disediakan oleh desa, selain itu mereka juga harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup, serta beradaptasi dengan lingkungan baru. Keadaaan tersebut menjadi pertimbangan yang cukup berat untuk melanjutkan pendidikan, terutama bagi keluarga yang penghasilannya tidak menentu.
Penyediaan tempat tinggal atau mess bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan pasca sekolah dasar merupakan sebuah bentuk kepedulian dari Pemerintah Desa yang patut diapresiasi. Sayangnya, upaya yang dilakukan belum sepenuhnya menjawab permasalahan yang ada. Daya tampung mess yang hanya tersedia 4 kamar, tentu tidak sejalan dengan banyaknya anak yang ingin melanjutkan pendidikan.Anak-anak yang tidak dapat tinggal di mess biasanya memilih tinggal di rumah saudara bagi mereka yang memiliki kerabat. Sementara itu, bagi anak-anak yang tidak memiliki saudara, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memperoleh tempat tinggal selama menempuh pendidikan. Persoalan yang ada menunjukan bahwa hambatan untuk melanjutkan pendidikan tidak hanya berhenti pada jarak tempuh saja, hambatan justru berlanjut dalam biaya hidup yang harus ditanggung sehari hari.
Selain jarak dan tempat tinggal, transportasi juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan sebagian anak untuk tidak melanjutkan pendidikan setelah SMP. Keterbatasan akses transportasi membuat perjalanan menuju sekolah lanjutan menjadi sulit untuk ditempuh. Sekolah yang paling dekat dari mess adalah SMPN 5 Manggar, yang cukup dijangkau dengan jalan kaki. Namun, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, siswa harus menempuh jarak yang lebih jauh sehingga memerlukan sarana transportasi yang tidak dapat disediakan oleh semua keluarga. Kondisi seperti ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Berbagai keluhan yang disampaikan masyarakat pada dasarnya bukanlah persoalan yang tidak dapat diatasi. Dengan komitmen dan koordinasi yang baik, pemerintah dapat mencari solusi yang tepat, seperti menambah kapasitas mess bagi pelajar serta menyediakan transportasi khusus bagi anak-anak yang berasal dari wilayah kepulauan.
Fakta lain yang tidak kalah penting menunjukkan adanya fenomena yang cukup ironis. Di Desa Buku Limau sebenarnya pernah tersedia sekolah menengah pertama, namun sekolah tersebut tidak lagi beroperasi akibat keterbatasan tenaga pendidik. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di wilayah kepulauan tidak hanya berkaitan dengan akses dan fasilitas, tetapi juga menyangkut pemerataan sumber daya pendidikan. Berbagai fakta yang telah dipaparkan seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah sekaligus bahan refleksi mengenai hambatan dan tantangan yang masih dihadapi anak-anak pulau dalam mengakses pendidikan.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, pemerintah tidak cukup hanya berbicara mengenai pemerataan pendidikan melalui angka-angka statistik. Pemerintah perlu melihat secara langsung realitas yang dihadapi masyarakat di lapangan. Pendidikan seharusnya tidak hanya diukur dari tingkat partisipasi sekolah atau angka kelulusan, tetapi juga dari seberapa mudah seorang anak dapat mengakses pendidikan tanpa harus menghadapi berbagai hambatan yang seharusnya tidak menjadi beban mereka. Anak-anak di Desa Buku Limau tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya menginginkan kesempatan yang sama dengan anak-anak lain di Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Sudah saatnya perhatian terhadap pendidikan di wilayah kepulauan tidak berhenti pada wacana dan janji semata. Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat perlu merumuskan kebijakan yang lebih komprehensif, mulai dari penguatan layanan pendidikan menengah di wilayah kepulauan seperti Desa Buku Limau, penyediaan transportasi khusus pelajar, bantuan biaya hidup bagi siswa yang harus tinggal di luar daerah, hingga pemerataan tenaga pendidik agar sekolah yang pernah berdiri tidak lagi berhenti beroperasi hanya karena kekurangan guru. Sebab, membangun pendidikan bukan sekadar mendirikan sekolah, melainkan memastikan bahwa pendidikan benar-benar dapat diakses oleh setiap anak tanpa terkecuali.
Pada akhirnya, perjalanan panjang yang harus ditempuh anak-anak Desa Buku Limau untuk memperoleh pendidikan tidak boleh terus-menerus dianggap sebagai kisah ketangguhan yang layak dinormalisasi. Di balik semangat dan perjuangan mereka, terdapat pertanyaan mendasar yang seharusnya kita renungkan bersama: mengapa seorang anak harus berjuang sedemikian keras hanya untuk memperoleh hak yang sejak awal telah dijamin oleh negara? Selama pertanyaan tersebut belum dijawab melalui kebijakan yang nyata dan berpihak kepada masyarakat, maka perjuangan anak-anak Desa Buku Limau belum benar-benar berakhir. Sesungguhnya, pihak yang harus berjuang lebih keras hari ini bukanlah mereka, melainkan negara yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal hanya karena dilahirkan dan dibesarkan di sebuah pulau kecil.
Penulis: TIM Riset Desa Buku Limau Universitas Bangka Belitung