Kuliah Internasional Eurasia UBB: Mengupas Identitas Suku Mapur di Tengah Himpitan Kapitalisme

28 Agu 2026 6
Kuliah Internasional Eurasia UBB: Mengupas Identitas Suku Mapur di Tengah Himpitan Kapitalisme

BANGKA — Program Studi Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) resmi membuka sesi perdana mata kuliah Eurasia dan Dinamika Politik Global untuk tahun akademik 2026/2027 pada 27 Agustus 2026. Merujuk pada dokumen "Press Release Eurasia 27 Agustus 2026 (1).pdf", kuliah ini mengangkat tajuk mengenai penelusuran identitas sejarah Bangka dan Belitung dalam kancah hubungan global (Tracing the Historical Identity of Bangka and Belitung in Global Relationship).

Hadir sebagai narasumber utama, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UBB, Dr. Iskandar Zulkarnain, S.IP., M.A.. Dalam paparannya, Iskandar membedah secara mendalam dinamika etnisitas, adat istiadat, hingga pandangan hidup Masyarakat Adat Suku Mapur, yang juga kerap dikenal sebagai Orang Lom.


Jejak Migrasi dan Bertahannya Identitas Lokal

Iskandar membuka perkuliahan dengan menelusuri narasi rakyat, hikayat, serta mitologi lokal. Ia kemudian memaparkan catatan sejarah migrasi manusia di Kepulauan Bangka Belitung yang menjadi cikal bakal terbentuknya Masyarakat Adat Mapur. Dari berbagai teori asal-usul yang berkembang, dugaan terkuat mengarah pada teori migrasi dari kawasan Vietnam dan Kamboja, yang turut membawa jejak kebudayaan khas mereka.

Meski kini berada di pusaran teknologi modern, Masyarakat Adat Mapur terbukti masih memegang teguh identitas leluhurnya. Keteguhan ini tecermin dari pencantuman aliran kepercayaan pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) serta pelestarian bahasa daerah yang sama sekali berbeda dari bahasa Melayu, Mandarin, maupun bahasa Indonesia. Eksistensi historis mereka pun sejatinya telah diakui sejak era Kesultanan Palembang Darussalam melalui aturan Sindang Mardika, hingga berlanjut ke masa kolonial Belanda.

Terkikisnya Tanah Adat oleh Dua Sisi Kapitalisme

Secara kultural, Suku Mapur menjunjung tinggi prinsip kebersamaan dan kesetaraan, yang mendorong mereka mengelola wilayah secara komunal. Namun, nilai-nilai luhur ini mulai luntur akibat benturan dengan konsep kesejahteraan modern, khususnya yang dibawa oleh ekspansi tambang timah dan perkebunan kelapa sawit.

Perubahan fungsi lahan tersebut berdampak langsung pada menyusutnya kawasan hutan adat. Iskandar menyoroti fenomena ini sebagai akibat dari dua bentuk kapitalisme:

  • Kapitalisme jalur atas: Berupa regulasi pemerintah dan pembukaan akses lahan.

  • Kapitalisme jalur bawah: Kondisi di mana masyarakat mengorbankan nilai budaya dan adatnya demi mengejar kesejahteraan.

Akibat gempuran ganda ini, wilayah adat Masyarakat Mapur kini diperkirakan kritis dan hanya tersisa sekitar 700 hingga 800 hektare.

Memperluas Cakrawala Analisis Mahasiswa

Perkuliahan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Para mahasiswa melontarkan beragam pertanyaan seputar problematika Suku Mapur, etimologi, cerita rakyat, hingga konsep-konsep lokal yang selama ini masih terdengar asing bagi masyarakat luar.

Melalui diskusi akademis ini, mahasiswa didorong untuk memperluas kacamata analisis mereka. Tujuannya, agar mereka lebih jeli melihat keragaman identitas, potensi, serta tantangan yang membalut masyarakat Bangka Belitung, sekaligus merumuskan respons yang adaptif dalam menghadapi dinamika dunia internasional.

Apakah ada bagian tertentu dari siaran pers ini yang ingin Anda gali lebih dalam atau fokuskan untuk tulisan lainnya?