Digitalisasi Sekolah Pesisir Bangka: Perangkat Tersedia, Infrastruktur Masih Menghadang
BANGKA — Pemanfaatan teknologi digital mulai menembus ruang-ruang kelas sekolah dasar (SD) di kawasan pesisir Kabupaten Bangka. Kendati demikian, ambisi modernisasi ini masih harus berhadapan dengan persoalan klasik: jaringan internet yang tidak stabil dan pasokan listrik yang kerap menjadi kendala.
Realitas tersebut merupakan temuan awal dari penelitian yang dilakukan oleh tim dosen Program Studi Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung (UBB) di tiga sekolah di Desa Deniang, yakni SDN 6, SDN 7, dan SDN 8. Melalui Program Peneliti Muda Tahun 2026, riset yang digelar pada 5 Agustus 2026 ini membedah tantangan serta peluang adopsi teknologi dalam pembelajaran Bahasa Inggris berbasis contextual learning.
Ketua Tim Peneliti UBB, Sofa Priyandayani Nasution, menyebutkan bahwa terjun langsung ke lapangan sangat krusial untuk memotret praktik dan hambatan nyata yang dialami guru beserta siswa. "Dari situ dapat dipetakan peluang pengembangan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi sekolah dan siswa," ujar Sofa, yang menjalankan studi ini bersama anggota timnya, Dr. Srimaharani Tanjung.
Infrastruktur Belum Mengimbangi Fasilitas
Secara fasilitas, sekolah-sekolah di pesisir ini sejatinya tidak tertinggal. Sejumlah sekolah telah dilengkapi dengan perangkat pendukung seperti Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif dari bantuan pemerintah. Alat ini membuka peluang bagi para guru untuk menyajikan kelas Bahasa Inggris yang lebih interaktif lewat visualisasi gambar, video, dan audio yang dekat dengan keseharian siswa.
Namun, keberadaan teknologi canggih ini belum didukung oleh infrastruktur yang mumpuni. Hasil pengamatan di SDN 7 dan SDN 8 menunjukkan bahwa meski fasilitas Wi-Fi sudah terpasang, kualitas koneksinya masih kembang kempis. Selain itu, ancaman pemadaman listrik sewaktu-waktu bisa menghentikan total kegiatan belajar berbasis digital tersebut.
Sofa menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan tidak boleh hanya terhenti pada pengadaan barang. "Infrastruktur harus berjalan bersama dengan penyediaan perangkat. Kalau internet dan listrik belum stabil, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran juga belum dapat maksimal," tuturnya.
Pendekatan Kontekstual Ala Pesisir
Dalam kajian ini, tim peneliti juga menyoroti pentingnya memasukkan unsur sosial dan lingkungan pesisir ke dalam materi pembelajaran. Melalui pendekatan contextual learning, materi Bahasa Inggris tidak sekadar dipindahkan dari buku teks ke layar digital, melainkan dirajut dengan realitas kehidupan siswa. Isu seputar kehidupan laut, ekonomi keluarga pesisir, hingga keseharian desa dijadikan fondasi materi pembelajaran. Dengan cara ini, teknologi dikembalikan pada porsinya sebagai sekadar sarana penunjang, bukan tujuan akhir pembelajaran.
Ke depan, penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan peta jalan terkait kesiapan sekolah, kebutuhan guru, serta solusi atas hambatan infrastruktur di lapangan. Temuan ini akan menjadi pijakan untuk meramu model pembelajaran Bahasa Inggris yang pas untuk karakteristik pesisir. Bagi sekolah-sekolah di Desa Deniang, keberhasilan transformasi pendidikan digital pada akhirnya menuntut lebih dari sekadar layar pintar di kelas, melainkan sinergi antara keandalan internet, listrik, kesiapan tenaga pendidik, dan materi yang membumi.