Membumikan Kebinekaan Global di SDN 14 Merawang: Mereduksi Egosentrisme Siswa Lewat Pembelajaran Berbasis Proyek dan Falsafah Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong
BANGKA — Arus globalisasi dan disrupsi digital di abad ke-21 tidak hanya membawa kemudahan akses informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan kultural yang masif bagi anak usia Sekolah Dasar (SD). Berada pada fase krusial pembentukan karakter, anak-anak kini dihadapkan pada paparan budaya asing serta polarisasi informasi media sosial yang berpotensi mengikis rasa cinta tanah air dan identitas budaya lokal. Tanpa fondasi moral yang kuat, generasi muda rentan terjebak dalam sikap egosentris, prasangka, dan gagap dalam merespons perbedaan di lingkungan sekitarnya.
Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merancang Kurikulum Merdeka dengan menetapkan Profil Pelajar Pancasila. Salah satu dimensi utamanya adalah Kebinekaan Global, yang mengamanatkan agar siswa tidak hanya mempertahankan budaya luhur dan lokalitasnya, tetapi juga berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain.
Sebuah kajian literatur mendalam yang dipublikasikan dalam CITOYEN: Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (Volume 01, Nomor 01, Juni 2026) mengungkap strategi pedagogis yang efektif untuk menumbuhkan nilai-nilai tersebut. Penelitian yang disusun oleh M. Ferdi Raihan Putra (STAI Rahmaniyah), Muhammad Adhiim Akbar (Universitas Bangka Belitung), dan Padlun Fauzi (Universitas Bangka Belitung) mengulas bagaimana model Project-Based Learning (PjBL) atau Pembelajaran Berbasis Proyek dapat diimplementasikan secara kontekstual di SDN 14 Merawang.
Problem Klasik: Kesenjangan Kurikulum dan Pembelajaran Hafalan
Meskipun idealisme Kurikulum Merdeka menekankan pembentukan karakter inklusif, kenyataan di lapangan sering kali memperlihatkan kesenjangan yang lebar. Pembelajaran Pendidikan Pancasila di tingkat sekolah dasar masih banyak didominasi oleh pendekatan konvensional yang berpusat pada guru (teacher-centered).
Siswa dipaksa menghafal simbol, butir-butir sila, dan aturan normatif lewat metode ceramah tanpa diajak memahami makna filosofis di baliknya. Pendekatan pasif dan verbalistik ini membuat siswa jenuh serta gagal melihat relevansi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, merujuk pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget, siswa usia SD (7–12 tahun) berada pada tahap operasional konkret yang membutuhkan stimulasi kontekstual, nyata, dan bermakna.
PjBL: Mengubah Kelas Menjadi Miniatur Masyarakat Inklusif
Berakar dari filsafat progresivisme John Dewey dengan prinsip learning by doing (belajar melalui tindakan), model Project-Based Learning menempatkan siswa sebagai subjek aktif. Siswa diajak menginvestigasi masalah dunia nyata, bekerja sama dalam tim, dan menghasilkan produk konkret.
+-----------------------------------------------------------------------+
| SINTAKS PjBL & INTERNALISASI KEBINEKAAN |
| |
| [1. Penentuan Pertanyaan Mendasar] |
| -> Mengangkat isu nyata & memicu apresiasi budaya lokal |
| |
| [2. Perancangan & 3. Penjadwalan Proyek] |
| -> Pembentukan kelompok heterogen (Melayu & Tionghoa) |
| -> Mengasah komunikasi antarbudaya & negosiasi |
| |
| [4. Pelaksanaan & Monitoring Proyek] |
| -> Pembagian peran adil, menekan egosentrisme, melatih empati |
| |
| [5. Presentasi (Uji Hasil) & 6. Evaluasi Pengalaman] |
| -> Apresiasi keberagaman & refleksi terhadap mozaik perbedaan |
+-----------------------------------------------------------------------+
Melalui analisis terhadap 15 artikel jurnal utama menggunakan metode library research dan analisis isi kualitatif, para peneliti menemukan bahwa setiap tahapan (sintaks) PjBL efektif mereduksi sikap egosentris siswa:
Kelompok Heterogen: Guru secara sengaja menyusun kelompok belajar yang heterogen dari segi etnis (seperti Melayu dan Tionghoa), gender, serta kemampuan akademik.
Komunikasi Antarbudaya: Dalam merancang aturan main dan pembagian tugas, siswa dilatih mendengarkan sudut pandang yang berbeda serta menekan ego bawaan usia anak-anak.
Refleksi Kebinekaan: Saat membuat karya dan mempresentasikannya, siswa menyadari bahwa keberhasilan tim tidak ditentukan oleh keunggulan satu individu atau suku tertentu, melainkan hasil sinergi inklusif seluruh anggota kelompok.
Mengangkat Modal Sosial Merawang: "Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong"
Implementasi PjBL akan berjalan optimal jika diselaraskan dengan realitas sosiokultural terdekat siswa. Wilayah Merawang, Kabupaten Bangka, memiliki kemajemukan yang unik dengan keberadaan etnis Melayu dan Tionghoa yang hidup berdampingan secara damai.
Masyarakat setempat memegang teguh falsafah kebersamaan "Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong", yang bermakna etnis Tionghoa dan Melayu adalah sama atau setara. Falsafah ini menjadi modal sosial (social capital) yang sangat berharga untuk diintegrasikan ke dalam materi proyek di SDN 14 Merawang:
Proyek Kuliner "Dapur Harmoni Merawang": Siswa meneliti asal-usul dan pembuatan makanan khas daerah seperti Lempah Kuning atau Martabak Bangka (Hok Lop Pan). Melalui proyek ini, siswa belajar secara empiris bahwa identitas daerah mereka lahir dari akulturasi damai berbagai etnis.
Proyek Tradisi "Festival Permainan Rakyat Lintas Etnis": Siswa bekerja sama membuat alat permainan tradisional (seperti gasing atau bakiak) dari bahan bekas. Aktivitas fisik kolektif ini membantu anak-anak melepaskan sekat-sekat perbedaan dan menginternalisasi nilai kesetaraan dalam tindakan bermain sehari-hari.
+-------------------------------------------+
| MODAL SOSIAL MERAWANG |
| "Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong" |
+-------------------------------------------+
|
+------------------+------------------+
| |
v v
+---------------------------+ +---------------------------+
| Proyek Kuliner | | Proyek Tradisi |
| "Dapur Harmoni" | | "Revitalisasi Permainan" |
+---------------------------+ +---------------------------+
| |
+------------------+------------------+
|
v
+-------------------------------------------+
| KARAKTER KEBINEKAAN GLOBAL |
| SISWA SD MERAWANG |
+-------------------------------------------+
Solusi Strategis Menghadapi Hambatan Implementasi
Riset ini juga memetakan sejumlah hambatan operasional dalam penerapan PjBL di sekolah dasar beserta resolusi strategisnya:
Kecemasan Metodologis Guru: Banyak guru terbiasa dengan struktur kurikulum kaku dan bingung menyusun rubrik penilaian karakter. Solusinya: Manajemen sekolah perlu menggeser fokus dari assessment of learning (penilaian produk fisik semata) ke assessment for learning (penilaian proses pembentukan karakter) melalui penguatan Kelompok Kerja Guru (KKG).
Dinamika Egosentris Anak: Siswa SD rentan membentuk kelompok eksklusif berdasarkan etnis atau status sosial. Solusinya: Guru menerapkan teknik scaffolding (bimbingan bertahap) dan menyusun kontrak belajar kelompok yang menjamin pembagian peran secara demokratis.
Stigma Biaya Mahal: PjBL sering dianggap membutuhkan bahan dan dana ekstra. Solusinya: Penerapan prinsip ekopedagogi berbasis lingkungan (low-cost, high-impact) dengan memanfaatkan barang bekas serta melibatkan paguyuban orang tua lintas etnis saat pameran karya (Market Day).
Melalui sinergi antara pendekatan progresif PjBL, kearifan lokal Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong, dan pelibatan komunitas sekolah, penumbuhan nilai Kebinekaan Global di SDN 14 Merawang tidak lagi sebatas teori hafalan di buku teks, melainkan hidup dan dirasakan langsung oleh para siswa.
Sumber: Putra, M. F. R., Akbar, M. A., & Fauzi, P. (2026). Implementasi pembelajaran berbasis proyek untuk menumbuhkan nilai kebinekaan global siswa SDN 14 Merawang: Kajian literatur. CITOYEN: Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 1(1), 62–74. https://citoyen.ubb.ac.id/index.php/jurnalppkn/id
Sumber Gambar: Gambar sampul merupakan gambar AI.