Mengupas Rahasia Dialog 'Ketika Cinta Bertasbih' Lewat Kacamata Pragmatik: Riset Kolaboratif Dosen UBB dan Universitas Satya Terra Bhinneka

23 Jun 2026 18
Mengupas Rahasia Dialog 'Ketika Cinta Bertasbih' Lewat Kacamata Pragmatik: Riset Kolaboratif Dosen UBB dan Universitas Satya Terra Bhinneka

Jambi — Novel legendaris Ketika Cinta Bertasbih (KCB) karya Habiburrahman El Shirazy selama ini lebih sering dikaji dari sudut pandang nilai religius, pesan akhlak, hingga hegemoni ideologi. Namun, sebuah terobosan akademis baru saja dilakukan oleh tim peneliti lintas perguruan tinggi yang membedah mahakarya ini menggunakan pisau analisis linguistik pragmatik, khususnya teori tindak tutur ilokusi.

Studi interdisipliner bertajuk "Tindak Tutur Ilokusi dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih Karya Habiburahman El Shirazy" ini dipublikasikan dalam Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Volume 10, Nomor 1, Edisi April 2026) yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Batanghari.

Riset ini digawangi oleh kolaborasi apik tiga akademisi: Hakim Prasasti Lubis dan Lasmi Hartati (Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung), bersama Tri Budiarti Damanik (Dosen Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Satya Terra Bhinneka).

Bahasa Bukan Sekadar Kata: Membongkar Niat di Balik Dialog Tokoh

Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta teknik simak, baca, dan catat, tim peneliti berhasil membongkar bahwa setiap komunikasi antar-karakter di dalam novel KCB tidak sekadar berfungsi sebagai lokusi (menyampaikan informasi secara fisik). Lebih dari itu, tuturan tokoh seperti Azzam, Anna Althafunnisa, Furqan, hingga Kiai Lutfi memiliki kekuatan ilokusi—yakni muatan niat, tujuan, dan tindakan nyata yang mampu memengaruhi dinamika sosial di dalam cerita.

"Analisis tindak tutur ilokusi ini menjadi panduan penting untuk menginterpretasikan makna mendalam yang tersembunyi di balik dialog setiap tokoh," tulis para peneliti dalam laporan ilmiah mereka.

Berdasarkan hasil pemetaan data, tim peneliti mengklasifikasikan makna tindak tutur ilokusi dalam novel tersebut ke dalam 5 kategori utama:

1. Tindak Tutur Asertif (Menyatakan Keyakinan/Fakta)

Digunakan tokoh untuk menyampaikan informasi yang mereka yakini benar. Contohnya terlihat jelas pada ucapan filosofis Azzam: "Di dunia ini, tidak ada yang lebih mulia selain amalan yang diterima oleh Allah." Tuturan ini menegaskan prinsip hidup agamis yang dipegang teguh oleh sang karakter utama.

2. Tindak Tutur Direktif (Mengarahkan Tindakan)

Berfungsi untuk meminta, memerintah, atau membimbing lawan bicara. Salah satu contoh kuatnya adalah ketika Ibunda Azzam memberikan instruksi religius kepada putranya: "Jangan lupa untuk berdoa setiap pagi dan malam." Hal ini mencerminkan pengaruh mendalam orang tua dalam membimbing spiritualitas anak.

3. Tindak Tutur Komisif (Komitmen Masa Depan)

Jenis tuturan ini melibatkan janji atau sumpah yang mengikat tindakan tokoh di masa depan. Komitmen ini diwujudkan lewat ucapan Azzam yang bertekad memajukan umat: "Jika Allah mengizinkan, saya akan kembali ke Indonesia untuk membantu masyarakat."

4. Tindak Tutur Ekspresif (Meluapkan Emosi)

Digunakan untuk mengeksternalisasikan gejolak perasaan, seperti kecemasan, cinta, ataupun keputusasaan. Konflik batin yang berat terekam pada ujaran jujur Furqan Andi Hasan kepada Kiai Lutfi: "Aku merasa sangat bingung, Kiai. Hatiku terasa berat sekali, seperti ada batu yang menekan dadaku..."

5. Tindak Tutur Deklaratif (Menegaskan Keputusan)

Berfungsi menetapkan pandangan hidup atau keputusan mutlak yang mengubah status hubungan atau arah hidup. Ketegasan ini diwakili oleh Anna Althafunnisa saat menentukan batas karier dakwahnya: "Aku sudah memutuskan, Azzam. Aku akan fokus pada studi dan perjalanan dakwahku. Aku tidak ingin terganggu dengan urusan perasaan..."

Menggambarkan Perubahan Sosial dan Evolusi Karakter

Keunggulan dari riset yang dilakukan oleh dosen UBB dan Universitas Satya Terra Bhinneka ini terletak pada keberhasilan mereka membuktikan bahwa cara berkomunikasi para tokoh berevolusi seiring perkembangan plot. Perubahan cara bertutur ini sangat dipengaruhi oleh tekanan emosi, keputusan hidup, serta relasi para tokoh dengan institusi agama dan masyarakat di sekitar mereka.

Secara keseluruhan, struktur percakapan dalam novel Ketika Cinta Bertasbih terbukti sangat efektif menjadi miniatur interaksi dunia nyata. Penggunaan variasi ilokusi ini tidak hanya membuat karakter terasa lebih hidup dan kompleks bagi pembaca, tetapi juga sukses memperkuat pesan moral, perjuangan hidup, dan nilai tanggung jawab yang ingin disampaikan oleh Habiburrahman El Shirazy.

Riset pragmatik ini diharapkan mampu mengisi kekosongan kajian linguistik sastra kontemporer di Indonesia sekaligus menjadi referensi akademis baru bagi para peneliti bahasa di masa mendatang.


Sumber: Lubis, H. P., Hartati, L., & Damanik, T. B. (2026). Tindak tutur ilokusi dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburahman El Shirazy. Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 10(1), 79-88. https://doi.org/10.33087/aksara.v10i1.1461