Penelitian Ungkap Dampak “Kepo” di Media Sosial terhadap Kesehatan Mental dan Relasi Sosial
Bangka – Penelitian terbaru mengungkap bahwa perilaku “kepo” atau stalking pasif di media sosial memiliki dampak signifikan terhadap kondisi emosional dan kualitas hubungan sosial pengguna, terutama di kalangan anak muda perkotaan di Indonesia.
Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah PSYCHE Volume 19 Nomor 1 Tahun 2025 itu meneliti perilaku digital stalking pada 250 pengguna media sosial aktif berusia 18–35 tahun di berbagai wilayah urban Indonesia.
Peneliti Rifki A. N., Siti N., dan Rezky G. P. menemukan mayoritas responden menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari dan rutin memantau akun orang lain tanpa berinteraksi secara langsung.
Menurut hasil penelitian, motif psikologis paling dominan dari perilaku stalking digital adalah rasa ingin tahu terhadap kehidupan pribadi orang lain, disusul kebutuhan akan keterhubungan sosial dan validasi diri melalui perbandingan sosial.
Penelitian menunjukkan tingginya prevalensi perilaku stalking pasif di media sosial. Salah satu indikator tertinggi muncul pada pernyataan “saya sering membuka profil orang lain tanpa berniat untuk berinteraksi,” yang memperoleh skor rata-rata paling tinggi dalam survei.
Hasil analisis statistik menemukan adanya hubungan signifikan antara intensitas perilaku stalking dengan meningkatnya kecemasan, rasa iri, dan kecenderungan overthinking. Di sisi lain, perilaku tersebut juga berkorelasi negatif terhadap kualitas relasi sosial, khususnya hubungan pertemanan.
Penelitian menyebut semakin tinggi frekuensi seseorang melakukan stalking digital, semakin besar kemungkinan individu mengalami tekanan emosional dan penurunan kualitas hubungan sosial.
Melalui analisis regresi, peneliti menemukan bahwa rasa ingin tahu menjadi faktor psikologis paling dominan yang memengaruhi perilaku stalking digital, diikuti kebutuhan validasi sosial dan kebutuhan keterhubungan sosial.
Penelitian juga menyoroti bahwa perilaku stalking di media sosial bukan sekadar aktivitas pasif, melainkan bagian dari dinamika psikososial yang kompleks. Peneliti mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep parasocial interaction, yakni hubungan satu arah yang terbentuk melalui media digital meski tanpa interaksi langsung.
Dalam kajian itu, media sosial disebut mampu membentuk hubungan emosional semu yang intens antara pengamat dan akun yang diamati. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu konstruksi realitas sosial yang tidak sehat serta memperkuat kecenderungan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Penelitian turut mengutip sejumlah studi internasional yang menunjukkan bahwa cyberstalking dapat menimbulkan dampak psikologis seperti kecemasan, stres emosional, gangguan tidur, hingga gejala psikosomatis.
Meski demikian, peneliti mencatat bahwa dalam konteks tertentu, aktivitas pemantauan media sosial tidak selalu berdampak negatif. Beberapa studi lain menunjukkan bahwa perbandingan sosial daring juga dapat memicu perilaku pro-sosial tergantung konteks penggunaan dan motivasi individu.
Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa perilaku “kepo” digital merupakan fenomena psikososial yang nyata dan memiliki konsekuensi emosional maupun relasional bagi pengguna media sosial.
Peneliti merekomendasikan perlunya penguatan literasi digital, edukasi kesehatan mental, serta pengembangan kebijakan etika digital yang lebih adaptif untuk mengurangi dampak negatif perilaku stalking di media sosial.
Sumber: Kepo di Media Sosial: Studi Psikologi Komunikasi tentang Efek Stalking Digital terhadap Emosi dan Relasi Sosial. (2025). Jurnal Ilmiah Psyche, 19(1), 47-60. https://doi.org/10.33557/rjcppj74