Revolusi Belajar Bahasa di Era Society 5.0: Saat ChatGPT dan Gemini Menjadi Copilot Siswa SMA di Pangkal Pinang

31 Jul 2026 32
Revolusi Belajar Bahasa di Era Society 5.0: Saat ChatGPT dan Gemini Menjadi Copilot Siswa SMA di Pangkal Pinang

PANGKAL PINANG, Memasuki era Society 5.0, lanskap pendidikan mengalami pergeseran fundamental. Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar menjadi alat bantu periferal, melainkan bagian integral yang berpusat pada pengembangan kapasitas manusia. Namun, di balik laju pesat evolusi teknologi ini, fakta di lapangan kerap menunjukkan jurang pemisah yang cukup tajam. Generasi muda yang akrab dengan gawai cerdas sering kali hanya memanfaatkan kecerdasan buatan sebatas media hiburan atau mesin penerjemah kata sederhana.

Melihat fenomena stagnasi tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Bangka Belitung (UBB) mengambil langkah intervensi edukatif. Bertempat di SMA Negeri 3 Pangkal Pinang, Kecamatan Rangkui, Kota Pangkal Pinang, sebanyak 40 siswa kelas X dan XI dilibatkan dalam sebuah pelatihan intensif bertajuk “Workshop Pembelajaran Berbasis Artificial Intelligence untuk Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Bagi Siswa SMA Negeri 3 Pangkal Pinang di Era Society 5.0”.

Program yang didukung penuh oleh Laboratorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UBB ini berfokus mereposisi peran AI. Alih-alih dipandang sebagai ancaman terhadap orisinalitas karya atau pengganti peran intelektual pembelajar, platform AI seperti ChatGPT (OpenAI) dan Google Gemini ditransformasikan menjadi copilot interaktif untuk mengasah empat pilar utama keterampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Menatap Kesenjangan Digital: Dari Pengguna Pasif Menuju Pengguna Aktif

Sebelum lokakarya dimulai, tim pengabdian memetakan kondisi awal para peserta melalui survei penggunaan AI dan pre-test kognitif. Hasil pemetaan word cloud memperlihatkan bahwa ChatGPT dan Gemini memang sudah sangat populer di kalangan siswa dibandingkan platform lain seperti DeepSeek atau Meta. Namun, penggunaannya masih sangat terbatas dan belum pernah diarahkan secara sistematis untuk pengembangan kompetensi akademik kebahasaan.

+-----------------------------------------------------------------------+
|                       KONDISI AWAL SISWA (PRE-TEST)                   |
|   - AI hanya dipakai untuk hiburan & terjemahan kata sederhana        |
|   - Rata-rata pemahaman kognitif konsep AI & etika: 52%               |
|   - Hanya 20% siswa yang mencapai standar kelulusan awal              |
+-----------------------------------------------------------------------+
                                   |
                                   v
+-----------------------------------------------------------------------+
|                    INTERVENSI WORKSHOP EXPERIENTIAL                   |
|   - Pemahaman Etika & Integritas Akademik (AI sebagai Copilot)        |
|   - Pelatihan Teknik Prompting Kontekstual                            |
|   - Praktik Mandiri & Umpan Balik Instan (ChatGPT & Google Gemini)    |
+-----------------------------------------------------------------------+
                                   |
                                   v
+-----------------------------------------------------------------------+
|                      CAPAIAN PASCA-WORKSHOP (POST-TEST)               |
|   - Pemahaman kognitif melonjak tajam menjadi 84% (+32%)              |
|   - 85% siswa berhasil menembus batas kelulusan kognitif              |
|   - 78% siswa menguasai praktik mandiri/psikomotorik (Skor >=12/16)    |
|   - Kepuasan & motivasi etis siswa (Afektif) mencapai 92%             |
+-----------------------------------------------------------------------+

Rata-rata skor pre-test peserta yang hanya menyentuh angka 52% menjadi bukti kuat betapa minimnya literasi AI yang terarah di tingkat sekolah menengah. Kesenjangan inilah yang coba dijembatani melalui pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman langsung.

Dalam pemaparannya, tim peneliti dan pengabdi UBB—Donny Adiatmana Ginting, Donal Fernando Lubis, dan Resti Amalia—menekankan pentingnya etika dan integritas akademik. Siswa dibekali pemahaman bahwa orisinalitas pemikiran tetap menjadi esensi utama, sementara AI bertindak sebagai pemacu kreativitas dan pemberi umpan balik instan (instant feedback) terhadap tata bahasa, struktur wacana, serta logika berpikir.

Integrasi Empat Pilar Kebahasaan Berbantuan AI

Praktik mandiri yang diselenggarakan selama lokakarya mengeksplorasi penerapannya pada empat pilar berbahasa secara komprehensif:

  • Keterampilan Menulis (Writing): Siswa menggunakan ChatGPT sebagai copilot untuk menyusun draft tulisan, memeriksa koherensi paragraf, serta mengoreksi tata bahasa tanpa menghilangkan gagasan asli penulis.

  • Keterampilan Berbicara (Speaking): Pemanfaatan simulasi percakapan interaktif berbasis AI dan fitur Google Gemini membantu siswa melatih pelafalan (pronunciation) dan membangun kepercayaan diri berkomunikasi tanpa batasan waktu kelas.

  • Keterampilan Membaca (Reading): Google Gemini dimanfaatkan untuk menganalisis struktur teks yang kompleks, mengidentifikasi ide pokok, serta melatih daya kritis siswa dalam membedah isi bacaan.

  • Keterampilan Menyimak (Listening): Melalui fitur audio adaptif, siswa dilatih menyusun prompt guna menghasilkan konten auditori sekaligus mengevaluasi pemahaman kosa kata secara mandiri.

Lonjakan Efektifitas: Data Evaluasi Kognitif, Psikomotorik, dan Afektif

Hasil evaluasi komprehensif memperlihatkan lompatan performa yang signifikan di seluruh indikator penilaian.

Aspek EvaluasiIndikator & Metode UkurTarget CapaianRealisasi HasilKeterangan / Status
Kognitif

Peningkatan pemahaman konsep & etika AI (Pre-test vs Post-test)

Analisis Peningkatan

52% $\rightarrow$ 84% (+32%)

Sangat Berhasil

Ketuntasan Kognitif

Proporsi siswa yang meraih skor $\ge 75\%$

-

20% $\rightarrow$ 85% (34 siswa)

Melampaui Target

Psikomotorik

Praktik prompting & pengoperasian AI secara mandiri (Rubrik $\ge 12/16$)

$\ge 75\%$ peserta

78% (31 siswa)

Sangat Baik

Afektif

Motivasi, rasa percaya diri, & komitmen etis akademis

$\ge 85\%$ peserta

92%

Sangat Baik

Kualitas Pelaksanaan

Kepuasan terhadap narasumber, modul, & fasilitas teknis

$> 75\%$ peserta

88%

Sangat Baik

(Sumber: Data Primer Penelitian Pengabdian Masyarakat Abdi Unisap, 2026)

Secara kognitif, terjadi lonjakan rerata nilai sebesar 32%, di mana 85% peserta berhasil menembus batas kelulusan. Pada aspek psikomotorik, indikator pengoperasian perangkat AI secara mandiri mencatatkan rerata tertinggi sebesar 3,42 dari skala 4,00. Meski demikian, indikator penyusunan prompt sesuai konteks kebahasaan memperoleh skor 2,98, mengindikasikan bahwa seni merumuskan instruksi presisi (prompt engineering) masih memerlukan latihan berkesinambungan.

RERATA SKOR PSIKOMOTORIK PER INDIKATOR (Skala 1 - 4)

[Indikator 1] Ketepatan Prompt Kebahasaan     : ██████████████░░░░  (2.98) - Baik
[Indikator 2] Pengoperasian Perangkat AI      : █████████████████░  (3.42) - Sangat Baik
[Indikator 3] Interpretasi Umpan Balik AI      : ███████████████░░░  (3.08) - Baik
[Indikator 4] Integrasi ke Produk Bahasa     : ███████████████░░░  (3.12) - Baik
-------------------------------------------------------------------------------
TOTAL RERATA PSIKOMOTORIK                     : 12.60 / 16.00      - Baik

Membangun Ekosistem Pembelajaran Masa Depan

Tingginya respons afektif peserta yang mencapai 92% membuktikan bahwa pembelajaran berbasis praktik langsung berhasil mengikis rasa canggung dan membangun motivasi intrinsik siswa. Lokakarya ini menegaskan bahwa kunci utama transformasi pendidikan di era Society 5.0 bukanlah menghindari kemajuan teknologi, melainkan membekali para pelajar dengan literasi kritis dan kesadaran etis.

Ke depan, model pengabdian berbasis intervensi AI ini diharapkan tidak hanya berhenti pada kelompok siswa, tetapi juga diperluas ke jajaran guru bahasa. Dengan melatih para pendidik untuk mengadopsi perangkat cerdas secara adaptif, ekosistem pendidikan yang inovatif, etis, dan responsif terhadap tantangan zaman dapat terwujud secara berkelanjutan.

Sumber: Ginting, D. A., Lubis, D. F., & Amalia, R. (2026). Workshop pembelajaran berbasis artificial intelligence untuk meningkatkan keterampilan berbahasa bagi siswa SMA Negeri 3 Pangkal Pinang di era Society 5.0. ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 1–10. https://ejurnal-unisap.ac.id/index.php/abdiunisap/index

Sumber Gambar Sampul: Gambar sampul merupakan gambar AI.