Sasar Kemitraan Strategis Global, Universitas Bangka Belitung Bedah Tata Kelola Kerja Sama Akademik

03 Jul 2026 26
Sasar Kemitraan Strategis Global, Universitas Bangka Belitung Bedah Tata Kelola Kerja Sama Akademik

Bangka — Universitas Bangka Belitung (UBB) menggelar webinar strategis bertajuk "Strategi Potensi Kerja Sama Secara Umum" pada Jum'at, 3 Juli 2026. Forum virtual yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 14.45 WIB ini menyasar seluruh jajaran pimpinan fakultas, jurusan, program studi (prodi), serta para dosen di lingkungan kampus UBB guna memetakan ulang arah kolaborasi akademik secara nasional maupun global.

Agenda ini menghadirkan M. Rifan Jauhari, perwakilan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (DIKTISAINTEK), sebagai pembicara utama. Diskusi ini menjadi sangat krusial mengingat tata kelola kemitraan perguruan tinggi saat ini dituntut untuk bergerak lebih adaptif dan terstruktur di tengah kompleksnya dinamika global.

Mengurai Kompleksitas Kerja Sama di Bidang Sains dan Teknologi

Dalam paparannya, M. Rifan Jauhari menyoroti dinamika kerja sama di bidang sains dan teknologi yang kian hari kian kompleks. Peningkatan kuantitas mitra serta variasi bentuk kolaborasi yang dijalin oleh lembaga pendidikan tinggi membutuhkan sistem tata kelola yang terstruktur dan sistematis.

"Pemetaan potensi kerja sama menjadi instrumen esensial. Langkah ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan upaya strategis untuk memastikan setiap kesepakatan berjalan efektif, efisien, dan selaras dengan prioritas capaian organisasi," ujar Rifan dalam materi presentasinya.

Selama ini, institusi pendidikan tinggi kerap dihadapkan pada sejumlah tantangan klasik dalam manajemen kemitraan. Tantangan tersebut meliputi adanya risiko tumpang tindih (overlapping) ruang lingkup program, belum terintegrasinya basis data dokumen kemitraan secara terpadu, hingga lemahnya sistem pemantauan dan evaluasi (monev) berkala terhadap implementasi di lapangan.

Empat Objek Vital dan Pilar Kolaborasi Kampus

Guna menyiasati kendala tersebut, DIKTISAINTEK memaparkan empat objek utama yang wajib diidentifikasi secara cermat oleh segenap sivitas akademika UBB dalam melakukan pemetaan kerja sama, yaitu:

  1. Mitra Kerja Sama: Menjajaki profil institusi pasangan.

  2. Bentuk Kerja Sama: Kejelasan payung hukum berupa Memorandum of Understanding (MoU), Perjanjian Kerja Sama (PKS), maupun bentuk kegiatan konkret.

  3. Periode dan Status: Memantau masa berlaku dan keaktifan dokumen kesepakatan.

  4. Unit Kerja Penanggung Jawab: Kejelasan person in charge (PIC) sebagai penggerak roda kolaborasi.

Rifan menambahkan, kategorisasi bentuk kerja sama perguruan tinggi setidaknya bertumpu pada empat pilar utama: perumusan kebijakan dan pengembangan kapasitas (capacity building), riset dan inovasi, pendidikan dan mobilitas akademik, serta hilirisasi dan komersialisasi produk teknologi.

Dalam skala global, pengelolaan ini juga wajib memperhatikan aspek hukum internasional, sensitivitas bilateral, isu geopolitik, skema keberlanjutan pendanaan (funding sustainability), serta kepatuhan penuh terhadap regulasi dan kepentingan nasional.

Membidik Kemitraan Internasional dan Output Berbasis Data

Webinar ini turut membedah peta sebaran strategis penerima Beasiswa BIM dan Garuda di berbagai universitas top dunia—seperti di Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Singapura, hingga Australia—sebagai salah satu indikator penguatan jejaring internasional. Ke depan, UBB diarahkan untuk lebih agresif membidik kawasan prioritas seperti ASEAN, Asia Timur (Jepang dan Korea Selatan), Eropa (Jerman dan Prancis), serta Australia guna mendorong riset kolaboratif dan pendanaan bersama.

Luaran akhir yang dibidik dari implementasi strategi pemetaan ini adalah terciptanya basis data (database) kerja sama yang terintegrasi, penguatan Standard Operating Procedure (SOP) koordinasi antar-unit di UBB, serta optimalisasi pemanfaatan data sebagai instrumen utama dalam pengambilan kebijakan strategis universitas.