Suntikan Literasi Politik dan Bisnis Digital: Strategi Universitas Bangka Belitung Cetak Calon Pemimpin Masa Depan di Toboali

05 Jun 2026 64
Suntikan Literasi Politik dan Bisnis Digital: Strategi Universitas Bangka Belitung Cetak Calon Pemimpin Masa Depan di Toboali

TOBOALI – Di tengah pesatnya perkembangan dunia siber, media sosial sering kali hanya menjadi panggung hiburan bagi remaja. Padahal, di balik layar gawai tersebut, tersimpan potensi besar untuk melahirkan sosok pemimpin masa depan yang mandiri secara ekonomi dan matang secara politik.

Merespons tantangan tersebut, tim akademisi dari Universitas Bangka Belitung (UBB) mengambil langkah taktis lewat program Pengabdian Masyarakat Tingkat Universitas (PMTU). Bermitra dengan SMA Negeri 2 Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, tim yang dikomandani oleh Novendra Hidayat, Abdul Fatah, Willa Fatika Sari, Feni Yulianti, dan Siti Nisaussangadah menggelar sebuah lokakarya intensif guna mendongkrak kapasitas kepemimpinan siswa melalui integrasi pendidikan politik dan keterampilan wirausaha digital.

Riset aksi yang dipublikasikan dalam Jurnal Abdi Insani (April 2026) ini menjadi pemantik di tengah potret buram lesunya partisipasi politik dan pendidikan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tim peneliti mencatat, merujuk data Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) terbaru, skor aspek hak memilih dan dipilih di wilayah ini baru menyentuh angka 47,59 persen. Ditambah lagi, Angka Partisipasi Kasar (APK) tingkat SMA di provinsi tersebut mengalami penurunan dari 88,28 persen menjadi 87,02 persen. Kondisi ini mengindikasikan adanya lampu kuning bagi regenerasi kepemimpinan dan motivasi belajar generasi muda lokal.

Melawan Apatisme Lewat Meja Kelas

Guna membedah persoalan pelik tersebut, tim UBB menerjunkan instrumen riset dan intervensi yang melibatkan 65 siswa di SMA Negeri 2 Toboali. Kegiatan ini dipecah ke dalam tiga fase utama: analisis kebutuhan pada pra-pelaksanaan, pembelajaran interaktif, serta evaluasi komprehensif.

"Sebelumnya, mayoritas siswa memandang politik sebagai sesuatu yang tabu atau tidak penting bagi usia muda. Kepemimpinan pun hanya diartikan sebatas posisi formal seperti ketua OSIS," tulis Novendra Hidayat bersama tim dalam laporan ilmiahnya.

Melalui sesi pendidikan politik formal yang digelar secara interaktif, para siswa dibekali pemahaman mengenai hakikat hak dan kewajiban warga negara. Mereka diajak mengasah nalar kritis agar tidak mudah terombang-ambing oleh empasan hoaks dan politik identitas yang kerap berseliweran di media sosial. Pendidikan politik ini didorong sebagai benteng ideologis agar mereka tumbuh menjadi pemilih pemula yang aktif dan bertanggung jawab, bukan kelompok yang apatis atau memilih golongan putih (golput) saat pesta demokrasi digelar.

Meramu Karakter Moral dan Cuan Digital

Tidak sekadar diajak melek politik, para remaja di Toboali ini juga disuntik dengan pemahaman spiritual leadership. Konsep ini menitikberatkan pada penguatan mentalitas yang kokoh—seperti kemampuan menerima kritik publik dan ketangguhan psikologis menghadapi kegagalan siber—yang disandarkan pada nilai-nilai religius serta integritas.

Sebagai senjata praktis hadapi era disrupsi, tim UBB turut menyajikan pelatihan kewirausahaan digital. Siswa dilatih melihat peluang bisnis di sekitar mereka, lalu mengemasnya menjadi konten kreatif memanfaatkan aplikasi ramah saku seperti Canva dan CapCut.

Hasil evaluasi lewat pengisian kuesioner menunjukkan lompatan persepsi yang cukup drastis dari para peserta:

  • Tinggi Urgensi: Lebih dari 75 persen siswa kini menganggap pendidikan politik dan kewirausahaan digital sebagai bekal yang amat krusial bagi masa depan.

  • Mental Baja: Sebanyak 96,9 persen siswa sepakat bahwa kekuatan mental (resiliensi) adalah modal utama dalam membangun roda bisnis.

  • Metode Hibrida: Sekitar 84,4 persen siswa menilai strategi pemasaran kombinasi—tradisional lewat warung dan digital lewat platform e-commerce seperti Shopee atau TikTok—adalah model paling efektif untuk memasarkan produk lokal.

  • Suntikan Motivasi: Sebanyak 81,2 persen siswa menyatakan minatnya melonjak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Peluang Cuan di Pesisir Bangka Selatan

Melalui wawancara mendalam yang bergulir di sela-sela kegiatan, terungkap jajaran ide bisnis kreatif yang potensial dikembangkan oleh jemari kreatif Gen Z di Toboali. Mulai dari digitalisasi pemasaran produk kuliner khas seperti terasi Toboali, perintisan fashion online dan thrift shop, kursus pendidikan siber, hingga pemanfaatan industri gaming dan e-sport.

Siswa seperti Wahyu Prahasada dan Revita mengakui, pelatihan ini membuka mata mereka untuk beralih fungsi dari sekadar konsumen konten media sosial menjadi produsen kreatif yang mampu mendongkrak ekonomi lokal.

Meski begitu, tim pengabdi mencatat masih adanya ganjalan berupa keterbatasan teknis serta krisis rasa percaya diri dari para siswa untuk memulai langkah perdana mereka di jagat maya. Hambatan inilah yang kemudian digarisbawahi oleh para akademisi sebagai pekerjaan rumah bersama. Diperlukan kolaborasi berkelanjutan yang solid antara pihak sekolah, akademisi universitas, hingga pemangku kebijakan daerah agar model integrasi moral, politik, dan ekonomi digital ini tidak layu di tengah jalan dan mampu menyokong pembangunan berkelanjutan di Bumi Serumpun Sebalai.


Sumber: Sari, W. F., Hidayat, N., Fatah, A., Yulianti, F., & Nisaussangadah, S. (2026). PENDIDIKAN POLITIK DAN KETERAMPILAN WIRAUSAHA DIGITAL SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS KEPEMIMPINAN GENERASI MUDA DI SMA NEGERI 2 TOBOALI BANGKA SELATAN. Jurnal Abdi Insani13(4), 83–97. https://doi.org/10.29303/abdiinsani.v13i4.3494