Benteng Ideologis di Era TikTok: Riset UBB Ungkap Kuliah PKN dan Lingkungan Kampus Efektif Tangkal Krisis Nasionalisme

19 Jun 2026 62
Benteng Ideologis di Era TikTok: Riset UBB Ungkap Kuliah PKN dan Lingkungan Kampus Efektif Tangkal Krisis Nasionalisme

Pangkalpinang – Derasnya arus globalisasi dan modernisasi perlahan mulai mengikis semangat nasionalisme di kalangan generasi muda Indonesia. Fenomena kecanduan gawai, maraknya video TikTok, histeria budaya K-Pop, hingga kegandrungan menonton drama Korea Selatan dituding menjadi salah satu pemicu bergesernya nilai, norma, serta memudarnya adat dan budaya lokal. Generasi milenial dan Gen Z kini dinilai kian akrab dengan budaya luar ketimbang warisan leluhur mereka sendiri.

Melihat kecenderungan yang mengkhawatirkan ini, sebuah riset kualitatif deskriptif terbaru dari Universitas Bangka Belitung (UBB) mengungkapkan bahwa institusi perguruan tinggi memiliki senjata pamungkas untuk mengintervensi penurunan moral tersebut. Senjata itu adalah optimalisasi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang didukung oleh ekosistem lingkungan kampus yang kondusif.

Studi komprehensif bertajuk "Pengaruh Pendidikan Kewarganegaraan dalam Lingkungan Kampus terhadap Sikap Nasionalisme Mahasiswa" ini dikerjakan oleh dua akademisi UBB, Dini Oktariani dan Indah Noviyanti. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan secara resmi dalam Edutainment: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kependidikan (Volume 13, Nomor 1, Edisi 2025). Riset ini juga tercatat mengacu langsung pada Rencana Strategis (Renstra) Penelitian Universitas Bangka Belitung 2021–2025 untuk Bidang Unggulan Sosial Humaniora.

Anatomi Riset: Mahasiswa Pangkalpinang Berbicara

Riset yang digelar di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini menggunakan metode purposive sampling untuk membedah persepsi para akademisi muda. Sebanyak 30 mahasiswa aktif dari Universitas Bangka Belitung yang berusia antara 18 hingga 25 tahun dilibatkan sebagai partisipan inti. Melalui teknik wawancara mendalam (in-depth interview) semi-terstruktur, observasi perilaku, dan analisis dokumen silabus, peneliti menguliti efektivitas PKN sebagai benteng ideologis.

Hasil analisis tematik (thematic analysis) dari wawancara sepanjang Februari hingga April 2024 menelurkan data rekapitulasi yang cukup mengejutkan:

  • Akselerasi Kesadaran: Sebanyak 25 dari 30 responden menegaskan secara eksplisit bahwa kuliah PKN sangat membantu mereka memahami sekaligus menumbuhkan kembali sikap nasionalisme.

  • Tolak Ceramah Monoton: Sebanyak 18 responden menilai metode interaktif jauh lebih efektif ketimbang doktrinasi satu arah.

  • Penjaga Keberagaman: Sebanyak 22 mahasiswa mengaku pemahaman mereka tentang urgensi merawat persatuan di tengah kebinekaan kian solid berkat mata kuliah ini.

  • Kritik Kontekstual: Sebanyak 7 responden meminta agar materi pembelajaran ke depan wajib dikaitkan dengan isu-isu kebangsaan kontemporer agar terasa aktual.

Tinggalkan Metode Kuno, Interaksi Jadi Kunci

Penelitian ini menggarisbawahi bahwa efektivitas PKN tidak akan tercapai apabila dosen masih menggunakan metode indoktrinasi kuno atau sekadar ceramah satu arah. Kualitas dan model penyampaian materi di dalam kelas memegang kendali penuh terhadap transformasi moral mahasiswa.

Pola Pembelajaran LamaParadigma Pembelajaran Baru (Rekomendasi Riset)Implikasi Terhadap Sikap Mahasiswa

Metode Ceramah Pasif

Metode Interaktif & Partisipatif (Diskusi kelompok, debat, studi kasus, problem-based learning).

Mahasiswa menjadi lebih kritis, reflektif, terbuka, dan merasa terlibat dalam isu kebangsaan.

Materi Tekstual/Kaku

Materi Kontekstual & Aktual (Menghubungkan konstitusi dengan problem riil masyarakat).

Nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 terasa lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Source: Matriks Komparasi Model Instruksional PKN, Jurnal Edutainment (2025)

Salah satu partisipan riset mengakui keterbukaan dosen di kampus dalam membuka ruang debat telah mengubah sudut pandangnya. "Dari materi yang saya pelajari, seperti Pancasila dan UUD 1945, saya jadi lebih paham hak dan kewajiban. Metode pengajarannya menarik karena ada diskusi isu kebangsaan, sehingga nilai nasionalisme terasa relevan," ujar salah seorang responden dalam petikan wawancara bersama tim peneliti UBB.

Ekosistem Kampus Sebagai Agen Sosialisasi Strategis

Dini Oktariani dan Indah Noviyanti dalam naskah ilmiahnya memaparkan bahwa perguruan tinggi berfungsi sebagai lingkungan pendidikan kedua terbesar setelah keluarga. Berdasarkan durasi aktivitas, mahasiswa menghabiskan rata-rata 7 hingga 8 jam per hari atau sepertiga dari waktu harian mereka di lingkungan akademik.

Interaksi yang intens dengan dosen, staf kependidikan, serta sesama mahasiswa di dalam ekosistem yang demokratis terbukti ampuh membentuk kepribadian dan integritas nasional. Kampus tidak boleh sekadar menjadi pabrik pencetak nilai akademik atau ijazah kelulusan, melainkan wajib menjadi laboratorium kebudayaan.

Untuk memaksimalkan fungsi tersebut, tim peneliti UBB merumuskan empat rekomendasi strategis bagi pengambil kebijakan di sektor pendidikan tinggi:

  1. Reformasi Pengajaran Dosen: Dosen disarankan mulai meninggalkan gaya mengajar satu arah dan beralih ke proyek berbasis masalah.

  2. Integrasi Ekosistem Kampus: Nilai kebangsaan harus menyusup ke dalam aktivitas non-akademik, seperti organisasi mahasiswa, pelatihan kepemimpinan, hingga program pengabdian masyarakat.

  3. Evaluasi Kurikulum Berkala: Institusi kampus wajib mengevaluasi materi PKN secara berkala agar tidak gagap menghadapi tantangan zaman.

  4. Sinergi Kampus dan Pemerintah: Diperlukan kolaborasi untuk menyusun modul nasionalisme yang kontekstual serta pelatihan bagi para dosen pengampu.

Melalui integrasi yang apik antara kurikulum PKN yang progresif dan atmosfer kampus yang inklusif, perguruan tinggi optimis mampu melahirkan generasi milenial yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi memiliki rasa cinta tanah air yang kokoh.


Sumber: Oktariani, D., & Noviyanti, I. (2025). Pengaruh pendidikan kewarganegaraan dalam lingkungan kampus terhadap sikap nasionalisme mahasiswa. Edutainment: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Kependidikan, 13(1), 9-16.