Cerita Rakyat Bangka Belitung Dinilai Simpan Pesan Etika Lingkungan

19 Mei 2026 117
Cerita Rakyat Bangka Belitung Dinilai Simpan Pesan Etika Lingkungan

Pangkalpinang – Penelitian terbaru dari Universitas Bangka Belitung mengungkap bahwa cerita rakyat di Kepulauan Bangka Belitung tidak hanya berfungsi sebagai hiburan dan warisan budaya, tetapi juga menyimpan pesan kuat mengenai etika lingkungan dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

Penelitian yang dilakukan oleh Uky Eji Anggara itu dipublikasikan dalam jurnal REFEREN Volume 4 Nomor 1 tahun 2025 dengan judul Analisis Etika Lingkungan dalam Cerita Rakyat Kepulauan Bangka Belitung: Perspektif Ekologi Sastra.

Dalam penelitian tersebut, Anggara menganalisis lima cerita rakyat Bangka Belitung, yakni Legenda Pulau Kapal, Legenda Si Penyumpit, Kisah Batu Belimbing, Dongeng Tuk Burod, dan Hikayat Keramat Bujang. Kelima cerita itu dinilai memuat nilai ekologis yang relevan dengan persoalan lingkungan masa kini.

Penelitian menggunakan pendekatan ekologi sastra atau ecocriticism, yang melihat alam bukan sekadar latar cerita, melainkan elemen penting yang memengaruhi jalan cerita, karakter, dan pesan moral di dalamnya.

Hasil penelitian menemukan enam konsep utama etika lingkungan yang muncul dalam cerita rakyat Bangka Belitung, yakni penghormatan terhadap alam, tanggung jawab menjaga lingkungan, solidaritas kosmis antara manusia dan alam, kasih sayang terhadap makhluk hidup, prinsip no harm atau tidak merusak alam, serta hidup sederhana dan selaras dengan lingkungan.

Dalam kisah Legenda Pulau Kapal, misalnya, alam digambarkan memberi “hukuman” kepada tokoh Kulup setelah ia durhaka kepada orang tuanya. Badai besar yang menenggelamkan kapal menjadi simbol bahwa perilaku manusia terhadap sesama dan lingkungan memiliki konsekuensi moral.

Sementara itu, cerita Legenda Si Penyumpit memperlihatkan hubungan harmonis antara manusia dan alam melalui tokoh pemburu yang tetap menghormati hewan dan menjaga keseimbangan lingkungan. Tokoh tersebut bahkan digambarkan menolong makhluk hidup yang terluka sebagai bentuk kepedulian terhadap alam.

Penelitian juga menyoroti Kisah Batu Belimbing yang menggambarkan persahabatan, pengorbanan, dan pemanfaatan alam untuk membantu masyarakat tanpa merusak lingkungan. Batu Belimbing dalam cerita itu disebut menjadi simbol hubungan erat antara manusia dan alam di Bangka Selatan.

Adapun dalam Dongeng Tuk Burod, kerusakan lingkungan digambarkan sebagai akibat dari kelalaian manusia dalam mengelola alam. Tokoh Burod diceritakan gagal menjaga lahannya hingga menyebabkan tanah terbakar dan tidak lagi subur untuk ditanami.

Menurut penelitian tersebut, cerita rakyat Bangka Belitung mencerminkan kesadaran ekologis masyarakat lokal yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Cerita-cerita itu dinilai dapat menjadi media pendidikan lingkungan yang efektif karena menggabungkan nilai moral dengan unsur budaya lokal.

Penelitian itu menyimpulkan bahwa sastra daerah memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat di tengah meningkatnya tantangan kerusakan lingkungan. Selain sebagai sarana pelestarian budaya, cerita rakyat juga dipandang mampu memperkuat nilai tanggung jawab manusia terhadap alam dan keberlanjutan kehidupan. 


Sumber: Anggara, U. E. (2025). Analisis etika lingkungan dalam cerita rakyat Kepulauan Bangka Belitung: Perspektif ekologi sastra. REFEREN, 4(1), 42–58. https://doi.org/10.22236/referen.v4i1.18979