Lupakan Rencana Matang, Viralitas Medsos dan FOMO Dorong Turis Milenial "Gas Keun" Wisata Spontan ke Jawa Barat
Bandung — Model liburan konvensional yang mengandalkan perencanaan matang, perhitungan anggaran berbulan-bulan, atau pemesanan tiket dari jauh hari tampaknya mulai bergeser. Di era digital saat ini, sebuah unggahan video estetik di TikTok atau Instagram yang masuk beranda (FYP) jauh lebih ampuh menggerakkan seseorang untuk langsung mengemas koper. Fenomena pelesiran impulsif ini rupanya bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil perkawinan silang antara algoritma media sosial dan tekanan psikologis netizen.
Sebuah riset teranyar yang dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin West Science (Volume 5, Nomor 4, Edisi April 2026) mengungkapkan bahwa dua faktor utama—yakni viralitas media sosial dan fenomena psikologis Fear of Missing Out (FOMO)—menjadi motor penggerak utama di balik tingginya niat perjalanan spontan (spontaneous travel intention) ke berbagai destinasi wisata viral di Jawa Barat.
Studi bertajuk "Pengaruh Social Media Virality dan FOMO (Fear of Missing Out) terhadap Spontaneous Travel Intention pada Wisata Viral di Jawa Barat" ini digarap oleh tim peneliti kolaboratif: Raden Asri Kartini, Eko Sudarmanto, Isaghoji, dan Rella Dwi Respati dari Universitas Muhammadiyah Tangerang, bersama Padlun Fauzi dari Universitas Bangka Belitung.
Ketika Algoritma Mengalahkan Logika Perencanaan
Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, tim peneliti menjaring data dari 150 responden yang didominasi oleh perempuan (54%) serta kelompok usia muda 18–25 tahun (41,3%). Profil ini memperlihatkan karakteristik khas kelompok "pemburu konten": mereka menghabiskan waktu lebih dari 3 jam sehari di dunia maya, dengan TikTok (38,7%) dan Instagram (34%) sebagai platform utama penyuplai informasi.
Menggunakan analisis regresi linier berganda melalui software SPSS versi 25, riset ini membongkar fakta bahwa keputusan berwisata di era modern kian didominasi oleh aspek emosional ketimbang evaluasi rasional.
Berikut rincian temuan penting dari riset tersebut:
Daya Dobrak Viralitas Digital: Variabel Social Media Virality terbukti berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap niat liburan spontan. Paparan konten user-generated yang masif (seperti ribuan likes, shares, dan komentar) secara otomatis membangun persepsi publik bahwa destinasi tersebut adalah tempat yang "wajib dikunjungi".
Tekanan Psikologis FOMO: Rasa cemas karena takut tertinggal dari momen seru orang lain (Fear of Missing Out) juga memiliki pengaruh positif dan signifikan yang sangat kuat dalam memicu tindakan impulsif. Netizen sengaja melakukan perjalanan kilat demi mempertahankan relevansi status sosial mereka di tongkrongan digital.
Efek Simultan yang Masif: Ketika viralitas media sosial bertemu dengan sindrom FOMO secara bersamaan, keduanya memberikan kontribusi sebesar 52,1% dalam menjelaskan munculnya niat wisata spontan. Sisa 47,9% lainnya dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar model penelitian.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku perjalanan spontan di era digital sangat dipengaruhi oleh paparan teknologi dan tekanan psikologis," tulis Raden Asri Kartini dan tim dalam laporan ilmiahnya. Berdasarkan kerangka teoritis Stimulus-Organism-Response (S-O-R), konten viral bertindak sebagai stimulus luar, FOMO mengaduk-aduk emosi internal individu selaku organisme, dan pelesiran spontan menjadi respons akhir yang mutlak.
Implikasi bagi Pengelola Wisata di Jawa Barat
Jawa Barat sendiri dikenal sebagai episentrum viral tourism di Indonesia. Mulai dari keasrian objek wisata alam di Bandung dan Garut, situs budaya, hingga deretan kafe estetik perkotaan, semuanya kerap mengalami lonjakan kunjungan tak terduga tak lama setelah fyp di jagat maya.
Temuan ini membawa implikasi praktis yang besar bagi para pelaku industri kreatif dan dinas pariwisata daerah. Pemasar pariwisata dituntut untuk tidak lagi sekadar memasang iklan konvensional. Mereka harus piawai meramu strategi storytelling visual yang estetik, aktif berkolaborasi dengan influencer, serta tanggap memanfaatkan momentum tren digital agar destinasinya tetap dilirik.
Kendati demikian, para peneliti memberikan catatan lampu kuning bagi pengelola daerah. Gelombang turis spontan yang datang secara mendadak akibat efek viral berpotensi memicu masalah baru, yakni overtourism. Jika tidak dimitigasi dengan baik melalui manajemen kapasitas yang bijak, lonjakan ini justru dikhawatirkan dapat merusak keberlanjutan ekosistem lingkungan dan tatanan sosial setempat.
Sumber: Kartini, R. A., Sudarmanto, E., Isaghoji, Fauzi, P., & Respati, R. D. (2026). Pengaruh social media virality dan FOMO (Fear of Missing Out) terhadap spontaneous travel intention pada wisata viral di Jawa Barat. Jurnal Multidisiplin West Science, 5(04), 631-642. https://wnj.westscience-press.com/index.php/jmws