Membongkar Struktur Bahasa Cerita Rakyat "Batu Balai": Tim Dosen UBB Temukan Dominasi Konjungsi dan Repetisi
Bangka – Cerita rakyat bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan cerminan mendalam dari nilai budaya, norma sosial, dan identitas masyarakat tempatnya lahir. Guna mempertahankan autentisitas warisan budaya lisan tersebut di era modern, kekuatan unsur-unsur linguistik dalam teks naratif memegang peran yang sangat krusial.
Sebuah studi linguistik terbaru berhasil membedah jalinan unsur bahasa dalam kekayaan lisan lokal Bangka Belitung. Riset bertajuk "Analisis Kohesi Leksikal dan Gramatikal dalam Cerita Rakyat Bangka Belitung 'Batu Balai'" mengupas tuntas bagaimana cerita rakyat disusun secara padu agar pesannya tersampaikan dengan efektif kepada pembaca maupun pendengar.
Studi ilmiah ini digarap oleh kolaborasi tim dosen dari Universitas Bangka Belitung (UBB), yakni Lasmi Hartati, Lili Liana, dan Muhammad Rozani. Hasil penelitian mereka resmi dipublikasikan pada jurnal ilmiah Diglosia (Volume 9, Nomor 2, Agustus 2025) yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Majalengka.
Menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan struktural serta teknik dokumentasi, tim peneliti mengisolasi total 20 data penanda kohesi yang memperkokoh keutuhan teks Cerita Rakyat Batu Balai.
Kohesi Gramatikal: Konjungsi Jadi Pengikat Alur Utama
Dalam analisis wacana, kohesi gramatikal merupakan perpaduan hubungan antarunsur teks yang dicapai dengan menggunakan sistem atau bentuk struktur bahasa. Dari total data yang dikaji, tim dosen UBB menemukan 11 data penanda kohesi gramatikal yang tersebar di dalam teks.
PENANDA KOHESI GRAMATIKAL (Total: 11 Data)
├── Konjungsi (5 Data / 46%) 🟩🟩🟩🟩🟩
├── Referensi (3 Data / 27%) 🟩🟩🟩
├── Elipsis (2 Data / 18%) 🟩🟩
└── Substitusi (1 Data / 9%) 🟩
Berdasarkan hasil hitungan formula persentase riset, aspek konjungsi (kata hubung) mendominasi dengan 5 data atau sebesar 46%. Pemanfaatan konjungsi yang kuat di dalam teks cerita rakyat ini berfungsi menyambungkan antarklausa secara runtut. Peneliti menemukan variasi kata hubung mulai dari kausalitas (karena), penanda tujuan (agar), pertentangan (tetapi), aditif (dan), hingga disjungtif (atau).
Posisi kedua ditempati oleh referensi (kata acuan) sebanyak 3 data (27%). Penanda ini didominasi oleh referensi personal seperti kata mereka (mengacu pada nelayan), serta ia dan -nya (mengacu pada tokoh utama, Gempu Awang).
Selanjutnya, ditemukan pula aspek elipsis (penghilangan frasa) sebanyak 2 data (18%) yang sengaja diterapkan agar struktur kalimat menjadi lebih ringkas dan mudah dipahami, serta substitusi (penggantian unsur) sebanyak 1 data (9%).
Kohesi Leksikal: Kekuatan Repetisi dan Sinonimitas
Berbeda dengan gramatikal yang bertumpu pada struktur, kohesi leksikal menitikberatkan pada hubungan kosa kata atau makna semantik internal di dalam wacana. Pada bagian ini, tim peneliti UBB mengamankan 9 data penanda kohesi leksikal.
| Jenis Penanda Leksikal | Jumlah Data Ditemukan | Persentase Kontribusi | Manifestasi Kontekstual dalam Cerita PDF |
| Repetisi (Pengulangan) | 4 Data | 45% | Pengulangan konstan pada frasa kunci seperti 'pergi merantau', 'kampung halamannya', dan 'perempuan tua itu'. |
| Sinonim (Kemiripan Makna) | 4 Data | 44% | Padanan kata penegas nuansa seperti 'masih ada' = 'hidup', 'pecah' = 'terbelah', serta 'guntur' = 'petir'. |
| Antonim (Perlawanan Kata) | 1 Data | 11% | Kontras karakter gender melalui oposisi kata 'perempuan' dan 'laki-laki'. |
Source: Data Primer Olahan Riset Jurnal Diglosia, UBB (2025)
Dominasi aspek repetisi (45%) dalam cerita "Batu Balai" membuktikan adanya teknik penceritaan lisan khas Melayu yang sengaja mengulang-ulang motif kalimat tertentu untuk memberikan penekanan emosional bagi pembaca. Sementara itu, kedekatan skor sinonim (44%) menunjukkan kekayaan kosakata penulisan dalam membangun atmosfer magis, seperti saat menggambarkan hancurnya kapal Gempu Awang akibat kutukan lewat paduan kata guntur-petir serta pecah-terbelah.
Menjaga Autentisitas Budaya Lewas Pendidikan Linguistik
Riset yang didanai melalui skema Hibah Riset Internal Penelitian Peneliti Muda (PM) Universitas Bangka Belitung tahun 2023 ini membawa implikasi besar bagi dunia pendidikan. Lasmi Hartati dan tim menegaskan bahwa hasil analisis struktural wacana ini dapat dimanfaatkan secara nyata sebagai bahan baku pengembangan kurikulum bahasa dan sastra lokal di tingkat sekolah.
Melalui pemahaman kohesi yang baik, guru dapat mengajarkan bahasa Indonesia sekaligus menanamkan muatan kearifan lokal secara presisi. Langkah ini dinilai strategis agar cerita rakyat seperti "Batu Balai" tidak lenyap tergerus zaman, melainkan tetap terjaga autentisitas bahasa dan konteks budaya aslinya di tengah dinamika perubahan sosial.
Sumber: Hartati, L., Liana, L. L., & Rozani, M. (2026). ANALISIS KOHESI LEKSIKAL DAN GRAMATIKAL DALAM CERITA RAKYAT BANGKA BELITUNG “BATU BALAI”. Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, Dan Kesusastraan Indonesia, 10(1), 35–45. diambil dari https://ejournal.unma.ac.id/index.php/diglosia/article/view/14249