Tangkal Arus Globalisasi, Pantun Besaot Belitung Jadi Kunci Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal

16 Jul 2026 7
Tangkal Arus Globalisasi, Pantun Besaot Belitung Jadi Kunci Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal

BELITUNG – Derasnya arus globalisasi dan modernisasi belakangan ini kian mengikis nilai-nilai budaya lokal di kalangan generasi muda. Menghadapi fenomena degradasi moral tersebut, model pembelajaran berbasis kearifan lokal dinilai menjadi strategi terbaik untuk mengenalkan sekaligus menanamkan identitas kultural sejak dini kepada peserta didik.

Sebuah riset mendalam bertajuk “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Pantun Besaot Belitung sebagai Sumber Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal” mengupas tuntas bagaimana tradisi lisan dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah. Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Wahana Didaktika (2025) ini disusun oleh duo peneliti dari Universitas Bangka Belitung, yaitu Muhammad Rozani dan I Nyoman Pasek Darmawan.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa inovasi pembelajaran di sekolah tidak harus selalu merujuk pada budaya asing, melainkan dapat dioptimalkan dengan mengangkat warisan leluhur yang kaya akan pesan moral, seperti tradisi Pantun Besaot di Belitung.

Mengenal Pantun Besaot dalam Tradisi Berebut Lawang

Pantun Besaot, atau tradisi berbalas pantun, merupakan bagian inti dari ritual upacara pernikahan adat masyarakat Belitung yang dikenal dengan istilah Berebut Lawang. Secara konsep, tradisi ini memiliki kemiripan dengan prosesi "Buka Palang Pintu" pada adat Betawi. Namun, dalam Berebut Lawang, pihak yang saling beradu pantun secara lisan bukanlah sepasang mempelai, melainkan perwakilan dari masing-masing keluarga.

Dalam ritual sakral ini, rombongan pengantin laki-laki diwajibkan melewati tiga tahapan pintu (lawang) sebelum akhirnya diizinkan menemui pengantin perempuan. Ketiga pintu tersebut bukan sekadar pembatas fisik, melainkan simbolisasi tebal dari tanggung jawab seorang kepala keluarga:

  1. Lawang Tukang Tanak (Pintu Penanak Nasi): Berada di halaman rumah, menyimbolkan kewajiban suami dalam menjamin kebutuhan pangan keluarga. Pihak pria wajib memberikan sejumlah uang prasyarat kepada penanak nasi agar bisa lewat.

  2. Lawang Panggung (Pintu Panggung): Terletak di pintu utama rumah, diserahkan kepada penghulu hajatan sebagai simbol bahwa seorang suami harus menjadi imam memimpin rumah tangga serta pemberi nafkah yang sah.

  3. Lawang Mak Inang (Pintu Pendamping Pengantin): Berada di depan kamar pengantin perempuan, menyimbolkan bahwa suami harus mampu memenuhi kebutuhan sandang dan rias (perawatan) bagi istrinya kelak.

"Begitu penting berebut lawang berbalas pantun, takkan melayu hilang di bumi," demikian petikan bait pantun besaot yang sarat makna akan pentingnya pelestarian budaya Melayu di tanah Belitung.

Kristalisasi 5 Nilai Utama Pendidikan Karakter

Menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui teknik pengamatan langsung, wawancara, dan studi pustaka, tim peneliti Universitas Bangka Belitung berhasil memetakan bahwa nilai sosiokultural di dalam Pantun Besaot dapat dikristalisasikan menjadi 5 nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK):

1. Nilai Religius

Tercermin kuat pada pembukaan dan jawaban pantun di setiap pintu yang selalu mengedepankan adab islami berupa ucapan salam (Assalamu'alaikum). Nilai keimanan ini mengajarkan peserta didik mengenai tata krama bertamu dan menghormati tuan rumah.

2. Nilai Integritas

Digambarkan melalui sikap tanggung jawab yang wajib dipenuhi oleh mempelai pria saat melewati syarat-syarat hukum adat. Selain itu, interaksi antar-perwakilan keluarga mencerminkan nilai toleransi dan saling menghormati keberagaman adat-istiadat.

3. Nilai Nasionalis

Kewajiban melestarikan tradisi sastra lisan ini menunjukkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Menjaga agar eksistensi Pantun Besaot tetap hidup di tengah gempuran zaman adalah wujud nyata dari upaya merawat identitas bangsa.

4. Nilai Mandiri

Prosesi penyerahan syarat materi di setiap pintu menyiratkan pesan mendalam mengenai kedisiplinan dan kerja keras. Untuk membangun rumah tangga yang kokoh, seorang individu dituntut mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

5. Nilai Gotong Royong

Saling memberi nominal atau uang rias kepada Mak Inang melambangkan kebersamaan, kepedulian sosial, serta semangat bahu-membahu dalam menyukseskan hajat pernikahan bersama.

Strategi Implementasi di Ruang Kelas

Kurikulum Merdeka saat ini memberikan ruang yang luas bagi sekolah untuk memasukkan konten lokal guna memperkuat karakter peserta didik. Pendidik dapat menerapkan pembelajaran berbasis kearifan lokal ini melalui langkah-langkah kreatif di dalam kelas.

Guru dapat memanfaatkan fasilitas teknologi, seperti menampilkan video pertunjukan Pantun Besaot Belitung melalui infokus. Langkah berikutnya, siswa diajak melakukan simulasi bermain peran (role playing) secara langsung untuk mempraktikkan bait-bait pantun bersahut tersebut. Setelah praktik selesai, siswa diarahkan untuk berdiskusi mengelaborasi pesan moral dan nilai karakter yang terkandung di dalamnya.

Langkah inovatif ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan tradisi lisan Belitung dari kepunahan, namun juga menjadi jangkar moral bagi generasi muda agar tidak terombang-ambing oleh kebudayaan luar yang serba terbuka.


Sumber: Rozani, M., & Darmawan, I. N. P. (2025). Nilai-nilai pendidikan karakter dalam pantun besaot Belitung sebagai sumber pembelajaran berbasis kearifan lokal. Jurnal Wahana Didaktika, 23(3), 460-475.

Sumber Gambar: Gambar sampul ilustrasi artikel ini dibuat dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Generative AI).