Urat Nadi Ekonomi Bangka Tengah: Cerita Pelabuhan Sungai Selan Melawan Pencemaran Limbah
BANGKA TENGAH – Berdiri kokoh sejak era kolonial Belanda, Pelabuhan Sungai Selan yang terletak di Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, terus mempertahankan posisinya sebagai pusat aktivitas perdagangan dan transportasi vital. Jauh dari sekadar tempat bersandar kapal, pelabuhan ini menjelma menjadi tulang punggung penghidupan bagi mayoritas masyarakat di sepanjang aliran sungai.
Sebuah studi mendalam bertajuk "Analisis Pelabuhan sebagai Sumber Penghidupan Masyarakat Sungai Selan" yang dirilis dalam Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial (Agustus 2024) mengupas dinamika krusial ini. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang digarap oleh tim peneliti dari Universitas Bangka Belitung—Berlian Birly Aeywaldy, Tania Januarti, Raply Anugrah, Shakira Mahendra Putri, Anis, dan Putra Pratama Saputra—menyoroti kontribusi ekonomi pelabuhan sekaligus ancaman lingkungan serius yang membayangi para nelayan lokal.
Pusat Logistik Antarpulau dan Transportasi Sawit
Aktivitas di Pelabuhan Sungai Selan bergerak dinamis mencakup berbagai sektor. Pelabuhan ini menjadi hub penting untuk bongkar muat komoditas sembako, perdagangan hasil bumi, pengangkutan kelapa sawit, hingga moda transportasi penumpang.
Bagi sektor logistik, pelabuhan ini telah membuka rute kapal barang menuju kota-kota besar seperti Palembang dan Jakarta sejak era 1970-an. Salah satu armada yang terkenal adalah KLM Muara Bhakti, kapal barang yang biasa menempuh perjalanan laut sekitar 30 jam dari Sungai Selan menuju Jakarta untuk mengambil sembako. Setelah bersandar kembali, barang-barang tersebut didistribusikan ke gudang-gudang besar di Pangkalpinang menggunakan jalur darat.
"Kondisi kapal dari Sungai Selan saat berangkat ke Jakarta atau Palembang biasanya kosong. Seharusnya kapal tersebut membawa hasil sumber daya lokal dari Bangka agar bisa menambah penghasilan daerah," tulis tim peneliti dalam laporannya.
Selain logistik sembako, transportasi air menjadi pilihan favorit bagi petani kelapa sawit. Menggunakan speedboat, pengangkutan kelapa sawit dari kebun warga menuju koperasi dan pabrik pengolahan dinilai jauh lebih cepat dan memangkas jarak tempuh jika dibandingkan dengan jalur darat.
Di sektor domestik, pelabuhan juga melayani angkutan penumpang umum menggunakan speedboat menuju Palembang dengan tarif berkisar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per orang. Moda transportasi berkapasitas 30 hingga 60 orang ini mampu memotong waktu perjalanan menjadi hanya 3 hingga 5 jam saja. Kendati sangat diandalkan masyarakat untuk pemenuhan hajat ekonomi, operasional speedboat ini masih dibayangi risiko keselamatan yang tinggi karena belum memiliki izin resmi dan minim alat keselamatan seperti pelampung.
Nelayan Lokal: Penjaga Ekosistem yang Terhimpit Limbah
Dinamika terbesar di Pelabuhan Sungai Selan didominasi oleh profesi nelayan tradisional. Data penelitian mencatat bahwa sebesar 62 persen informan menggantungkan hidup sebagai nelayan sungai, sementara 18 persen lainnya mengelola usaha perikanan dan kerajinan tangan berbasis bahan alami sungai.
Para nelayan menangkap berbagai spesies ikan air tawar endemik, seperti lele, nila, patin, dan mas. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di perairan; mulai dari persiapan alat tangkap (30-60 menit), pelayaran ke lokasi (1-2 jam), hingga proses penjemputan ikan yang memakan waktu 2 hingga 3 hari tergantung pada logistik, kondisi cuaca, dan keberuntungan.
Dengan memakai alat sederhana dan kapal tradisional, para nelayan ini bertindak sebagai "pengawas alami" yang memantau kualitas air serta pergerakan ekosistem sungai tanpa merusak alam. Sayangnya, kontribusi besar ini harus berhadapan dengan realitas lingkungan yang kelam.
Sungai Selan kini didera masalah pencemaran akut akibat buangan limbah domestik dan industri. Kandungan logam berat berbahaya seperti merkuri (Hg) dan timbal (Pb) di perairan tersebut dilaporkan telah melebihi ambang batas aman. Paparan limbah berbahaya ini secara langsung mengancam kelangsungan hidup biota air, menurunkan populasi ikan tangkap, dan membahayakan kesehatan warga yang memanfaatkan air sungai untuk keperluan mandi dan mencuci. Selain itu, nelayan juga didera konflik persaingan antarsesama serta minimnya akses ke infrastruktur dasar seperti tempat pembuangan hasil tangkapan, sarana pendidikan, dan fasilitas kesehatan.
Rekomendasi Solusi Berkelanjutan
Demi menjaga Pelabuhan Sungai Selan tetap berkelanjutan sebagai sumber penghidupan, tim peneliti Universitas Bangka Belitung mendesak adanya langkah strategis yang komprehensif:
Peningkatan Kesadaran Lingkungan: Mengendalikan pembuangan limbah industri beracun dan domestik guna memulihkan baku mutu air sungai.
Pemberdayaan Ekonomi Nelayan: Memberikan pelatihan keterampilan menangkap ikan, manajemen usaha perikanan, serta memperluas akses pasar agar nelayan mendapat harga jual yang adil.
Penyediaan Perlindungan Sosial: Menggulirkan jaminan kesehatan, asuransi nelayan, dan bantuan pendidikan bagi anak-anak keluarga nelayan guna memberikan rasa aman bekerja.
Sinergi Multipihak: Mendorong kolaborasi ketat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat lokal untuk mentransformasi pelabuhan menjadi pusat ekonomi modern yang efisien, aman, dan ramah lingkungan.
Sumber: Aeywaldy, B. B., Januarti, T., Anugrah, R., Putri, S. M., Anis, & Saputra, P. P. (2024). Analisis pelabuhan sebagai sumber penghidupan masyarakat Sungai Selan. Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 11(8), 3160-3171. http://dx.doi.org/10.31604/jips.v11i8.2024.3160-3171
Sumber Gambar: Gambar sampul ilustrasi artikel ini dibuat dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Generative AI).