Waspada Kekerasan Seksual Anak di Pangkalpinang, Tim Dosen UBB & Unmuh Babel Giatkan Program "Kenali dan Lindungi Diri"

01 Jul 2026 14
Waspada Kekerasan Seksual Anak di Pangkalpinang, Tim Dosen UBB & Unmuh Babel Giatkan Program "Kenali dan Lindungi Diri"

Pangkalpinang — Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Pangkalpinang masih menjadi ancaman yang nyata. Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pangkalpinang mencatat adanya 78 kasus kekerasan, di mana 24 kasus atau sekitar 30 persen di antaranya menargetkan anak-anak. Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam, terutama karena anak-anak usia sekolah dasar merupakan kelompok yang paling rentan akibat keterbatasan pengetahuan untuk melindungi diri mereka sendiri.

Merespons urgensi tersebut, tim dosen kolaborasi dari Universitas Bangka Belitung (UBB) & Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) mengambil langkah konkret dengan menggelar program pengabdian masyarakat bertajuk "Kenali dan Lindungi Diri" di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 15 Pangkalpinang, Kecamatan Taman Sari, Kota Pangkalpinang. Tim yang digawangi oleh Vika Martahayu, Yopi Malagola, Irpan Zuhri, Cleopatra, dan Asti Wulandari ini berupaya membangun model pencegahan dini kekerasan seksual yang sistematis dan berkelanjutan di tingkat sekolah dasar.

Edukasi Interaktif: Membedakan Sentuhan Aman dan Berbahaya

Anak-anak sering kali menjadi korban yang bungkam karena rasa takut, malu, atau bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan. Oleh karena itu, dalam sosialisasi yang dipimpin oleh Yopi Malagola, siswa diajak memahami batasan tubuh mereka lewat cara-cara yang menyenangkan dan jauh dari kesan menakutkan.

Menggunakan media visual interaktif dan pemutaran video lagu edukatif seperti "Sentuhan Boleh, Sentuhan Tidak Boleh", anak-anak diajarkan secara tegas bagian tubuh mana saja yang merupakan area pribadi dan sensitif.

"Anak-anak diberikan pemahaman bahwa area yang tertutup pakaian dalam tidak boleh dilihat atau disentuh oleh orang lain tanpa izin. Mereka juga dibekali dengan strategi dasar perlindungan diri: Katakan tidak, Lari, dan Lapor!" tulis tim peneliti dalam laporan pengabdian mereka.

Tak hanya mendengarkan materi, para siswa juga mengikuti permainan tebak kata kunci guna melatih kemampuan berpikir kritis dan membangun rasa percaya diri mereka untuk langsung melapor kepada orang dewasa tepercaya jika menghadapi situasi yang mencurigakan.

Sinergi Guru dan Orang Tua sebagai Garda Terdepan

Pencegahan kekerasan seksual tidak akan bisa berjalan maksimal jika hanya dibebankan pada pundak sang anak. Program ini secara khusus melibatkan orang tua dan guru dalam sesi pelatihan terpisah yang dipandu oleh Irpan Zuhri.

Melalui metode role play (permainan peran), para orang tua dilatih untuk mendengarkan keluhan anak secara empatik dan tanpa menghakimi. Orang tua diajarkan untuk peka melihat perubahan perilaku anak secara tiba-tiba—seperti mendadak murung, takut pada orang tertentu, atau mengalami penurunan prestasi belajar—yang bisa menjadi indikator awal anak mengalami trauma.

Sementara itu, bagi pihak sekolah, pelatihan ini difokuskan untuk mengaktifkan kembali peran Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) agar tidak sekadar menjadi formalitas administratif belaka. Para guru dibekali dengan prosedur dokumentasi profesional, teknik konseling dasar yang peka korban, serta penguatan sinergi hukum berdasarkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023.

Membangun Lingkungan Sekolah yang Ramah Anak

Langkah dari tim pengabdian masyarakat Unmuh Babel ini diharapkan dapat menjadi stimulus bagi sekolah-sekolah lain di Bangka Belitung. Dengan letak SDN 15 Pangkalpinang yang berada di kawasan padat penduduk, dampak dari sosialisasi perlindungan anak ini berpotensi meluas secara masif ke lingkungan masyarakat sekitar.

Di akhir program, tim dosen juga menginisiasi penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) perlindungan anak di sekolah serta membangun jejaring komunikasi dengan instansi terkait, seperti DP3ACSKB Pangkalpinang dan pihak kepolisian. Sinergi yang terintegrasi ini menjadi kunci utama demi mewujudkan ruang belajar yang aman, nyaman, adil, dan ramah anak.


Sumber: Martahayu, V., Malagola, Y., Zuhri, I., Cleopatra, & Wulandari, A. (2026). Pelatihan program "Kenali Lindungi Diri" membangun kesadaran perlindungan anak dalam pencegahan dini kekerasan seksual. KOMUNITA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 5(1), 52-63. https://doi.org/10.60004/komunita.v5i1.382