Di balik sendok, garpu, dan jeda percakapan, terselip nilai profesionalisme yang tak selalu tampak.
Pangkalpinang —
Bagi sebagian orang, etiket di meja makan mungkin hanya persoalan tata cara yang sopan. Namun bagi mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung (UBB), etiket itu kini menjadi bagian dari pembelajaran serius untuk memasuki dunia bisnis internasional. Selama enam pertemuan dalam Mata Kuliah English for Business semester gasal 2025/2026, mahasiswa diajak untuk memahami table manners bukan sebagai aturan kaku, tetapi sebagai praktik budaya yang melekat dalam komunikasi profesional.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengandalkan teori yang disampaikan di ruang kuliah. Mereka dibagi dalam kelompok kecil, menganalisis etiket makan dari berbagai negara, dan mempresentasikannya kembali dalam bentuk praktik. Dosen pengampu, Dr. Diana Anggraeni, M.Hum., bersama Fajar Agung Pangestu, M.Pd., menuturkan bahwa table manners merupakan bagian dari komunikasi nonverbal yang penting dalam dunia bisnis.
Sebelum memasuki praktik utama, mahasiswa diajak menelusuri ruang-ruang perhotelan melalui room tour di Swiss-Belhotel Pangkalpinang. Mereka diperkenalkan pada konsep ruang makan formal, penataan meja, hingga alur pelayanan. Bagi sejumlah mahasiswa, pengalaman tersebut membuka wawasan baru. Ruang makan bukan lagi sekadar tempat makan, melainkan arena interaksi sosial yang penuh kode-kode budaya.
Praktik table manners dilakukan pada pertemuan ke-13 hingga ke-15 di Swiss-Belhotel, setelah sebelumnya mahasiswa menjalani latihan awal di kampus. Mereka mengatur kontak mata, memilih momen tepat untuk berbicara, dan menjaga ritme percakapan sesuai budaya negara yang sedang disimulasikan.
Sebagai keluaran pembelajaran, mahasiswa harus menghasilkan video praktik table manners.
“Video tersebut bukan hanya bukti kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga rekam jejak bagaimana mahasiswa memahami diri dan budaya lain,”
— Dr. Diana Anggraeni
Dalam dunia bisnis internasional, ada hal-hal yang tak tercatat dalam kontrak, tak termuat dalam presentasi, dan tak pernah tertulis dalam proposal. Namun justru di situlah reputasi seseorang dibentuk. Etiket makan, yang sering dianggap sebagai aspek kecil dari interaksi sosial, sejatinya adalah jendela penting untuk memahami profesionalisme dalam skala global. Bagi mahasiswa, pengalaman mempelajari tata cara makan lintas budaya bukan sekadar latihan menempatkan garpu dan pisau. Ia adalah pelajaran tentang membaca konteks, menghormati keragaman, serta memahami bagaimana detail dapat mencerminkan kepribadian dan integritas. Di meja makan, orang menunjukkan lebih dari sekadar pilihan makanan; mereka menunjukkan kehadiran diri, disiplin, dan kemampuan untuk bersikap tepat dalam situasi apa pun.
Pada akhirnya, kegiatan ini mengajak mahasiswa membuka mata terhadap hal-hal yang sebelumnya tak mereka sadari. Bahwa dunia profesional kerap bergerak melalui isyarat halus yang tak dikatakan. Bahwa kerja sama internasional menuntut lebih dari pemahaman budaya—ia menuntut kepekaan, kesopanan, dan kemampuan menunjukkan rasa hormat dalam bentuk yang paling sederhana. Dan di situlah pelajaran etiket makan menemukan maknanya: sebagai latihan mencermati yang tak terlihat, demi menjadi pribadi yang siap melangkah ke panggung global.
— Selesai —