Babel Film Festival 2025 diselenggarakan sebagai ruang apresiasi sekaligus pembelajaran bagi sineas muda dan penikmat film di Provinsi Bangka Belitung. Kegiatan ini menjadi wadah penting bagi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan kreatif mereka melalui medium film, sekaligus memperkuat ekosistem perfilman lokal yang terus berkembang. Festival ini tidak hanya menghadirkan pemutaran karya, tetapi juga membuka ruang dialog antara pembuat film, praktisi, dan audiens.
Kegiatan Babel Film Festival 2025 dibuka secara resmi oleh Dr. Afifulloh, M.Hum., selaku Koordinator Program Studi Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa festival film memiliki peran strategis sebagai medium ekspresi kreatif, refleksi sosial, serta sarana pembelajaran lintas disiplin.
Festival film bukan sekadar hiburan, melainkan medium ekspresi kreatif dan refleksi sosial yang menguatkan ekosistem perfilman lokal. — Dr. Afifulloh, M.Hum.
Menurutnya, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media yang mampu merekam realitas sosial, menyuarakan kritik, serta membangun kesadaran masyarakat terhadap berbagai isu di sekitarnya. Ia juga berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya sineas-sineas muda yang berani bereksperimen dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosial dan budaya lokal.
Acara ini dilaksanakan sesuai dengan rundown yang telah ditetapkan dan berlangsung pada tanggal 15 Desember 2025 di Ruang Seminar FISIP, Gedung Babel 1, Universitas Bangka Belitung. Suasana kegiatan berlangsung kondusif dan antusias, terlihat dari partisipasi aktif peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, komunitas film, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap dunia perfilman. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan bahwa minat terhadap film, khususnya film pendek lokal, semakin meningkat di Bangka Belitung.
Secara keseluruhan, Babel Film Festival 2025 terbagi ke dalam dua sesi utama, yakni sesi pagi dan sesi siang. Sesi pagi diisi dengan diskusi dan apresiasi film pendek yang menghadirkan narasumber dari TVRI Babel, yaitu Sysca Ayu Hutami selaku produser dan Desi Megawati sebagai sutradara.
Dalam sesi ini, kedua narasumber membagikan pengalaman mereka dalam proses produksi film, mulai dari tahap pengembangan ide, penulisan naskah, proses pengambilan gambar, hingga tahap pascaproduksi. Diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar tantangan teknis maupun kreatif dalam pembuatan film, khususnya dalam konteks keterbatasan sumber daya di daerah.
Selain diskusi, sesi pagi juga dirangkaikan dengan pemutaran film-film pendek yang dilombakan serta pemberian hadiah kepada para pemenang lomba Film Pendek. Momen ini menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras dan kreativitas para sineas muda yang telah menuangkan ide-ide mereka ke dalam karya audiovisual.
Penghargaan yang diberikan diharapkan dapat memotivasi peserta untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan mereka di bidang perfilman.
Sementara itu, sesi siang difokuskan pada pemutaran film-film terpilih dan film pemenang lomba. Pemutaran ini menjadi ajang apresiasi lanjutan sekaligus ruang temu antara pembuat film dan penonton. Melalui sesi ini, penonton diajak untuk menikmati beragam perspektif dan cerita yang diangkat oleh sineas lokal, sekaligus membuka ruang diskusi informal mengenai pesan dan makna yang terkandung dalam setiap karya.
Dengan demikian, Babel Film Festival 2025 tidak hanya menjadi perayaan karya film, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam memperkuat jejaring dan ekosistem perfilman lokal di Bangka Belitung.